Minggu, 27 Januari 2013

Kiat Sukses Muhammad Al Fatih



 

Kiat sukses itu banyak, namun sekarang kita akan belajar kiat sukses dari sebaik-baiknya raja menurut Rasulullah shallallahu'alaih wasallam. Beliau adalah Sultan Muhammad Al Fatih, sang Penakluk Konstantinopel. Penaklukan Konstantinopel sebenarnya sudah disebutkan oleh Rasulullah  shallallahu'alaih wasallam melalui beberapa hadits. Kemudian, banyak raja yang mencoba untuk membuktikan ramalan itu. Semuanya gagal, kecuali Muhammad Al Fatih. Beliaulah sebaik-baiknya raja seperti yang disebutkan oleh Rasulullah shallallahu'alaih wasallam.
Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan.” [H.R. Ahmad bin Hanbal Al-Musnad 4/335]
Namun, meski sudah diramalkan oleh Rasulullah shallallahu'alaih wasallam, adalah tidak mudah untuk menaklukan kota Konstantinopel. Banyak raja-raja sebelumnya yang mencoba, tetapi baru Sultan Al Fatih yang mampu menaklukannya. Apa rahasianya? Inilah kiat sukses yang akan kita coba bahas kali ini.

Kiat Sukses Pertama: Persiapan Matang

Persiapan Pribadi Adalah Kiat Sukses Yang Utama

Sejak kecil, Sultan Al Fatih sudah memiliki cita-cita untuk menjadi penakluk Konstantinopel. Apa yang beliau lakukan? Ya, mempersiapkan diri. Beliau mempelajari usaha-usaha yang pernah dilakukan oleh raja Islam sebelumnya. Percobaan dimulai pada zaman Mu’awiyah bin Abi Sufyan (tahun 44 H). Setidaknya ada 6 kerajaan besar yang sudah mencoba sebelumnya. Usaha-usaha itu dipelajarinya.
Apa hikmahnya? Meski sudah diramalkan oleh Rasulullah shallallahu'alaih wasallam, namun persiapan matang untuk ihktiar yang optimal tetap perlu dilakukan. Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita mempersiapkan sebaik-baiknya diri kita untuk mencapai cita-cita kita?
Bukan hanya belajar dari sejarah. Al fatih, sejak kecil sudah digembleng dengan ilmu strategi perang dan tentu saja tidak lupa ilmu-ilmu agama dengan bimbingan seorang murabbi kharismatik saat itu. Tujuannya tiada lain, untuk kejayaan Islam. Ilmu agama dan ilmu militer keduanya dipelajari, tidak hanya salah satu. Islam memang tidak membeda-bedakan ilmu. Selama untuk mendekatkan diri dengan Allah, itulah ilmu yang bermanfaat.
Al-Qur’an, hadits, fiqih, bahasa (Arab, Parsi dan Turki), matematika, falak, sejarah, ilmu peperangan dan sebagainya adalah ilmu-ilmu yang dipelajari oleh Al Fatih. Sehingga Muhammad Al Fatih dikenal dengan ketinggian pribadinya.

Persiapan Pasukan

Saat akan menyerbu, Al Fatih menyiapkan 250 ribu tentara. Jumlah yang banyak. Sekali lagi, ini menunjukan bahwa jika kita mau berusaha, usahanya memang harus optimal. Tidak cukup mengatakan “saya sudah berusaha”. Kerahkan semua yang ada, jangan seadanya.
Selain besar dalam jumlah, Al Fatih juga membina tentaranya dengan semangat jihad. Bukan hanya menerpa fisiknya saja, tetapi ruhaninya pun disentuh karena ini justru sumber kekuatan utama. Sebelum perang pun, Al Fatih, berkhutbah terlebih dahulu di depan pasukannya tentang ketinggian jihad dan harapan kemenangan demi kejayaan Islam.
Optimalisasi ikhtiar juga diterapkan dalam hal teknologi. Bukan hanya mengandalkan jumlah dan semangat, namun teknologi militer tercanggih pun digunakan (saat itu meriam). Ini juga mengandung hikmah bagi kita semua, untuk tetap berusaha menguasai teknologi terbaru. Memang, di akhirat tidak akan ditanya teknologi, tetapi teknologi bisa digunakan untuk kejayaan Islam. Tetaplah belajar teknologi.

Persiapan Strategi

Sebelum berperang, Al Fatih, beserta guru dan tangan kanannya mempersiapkan strategi dengan teliti. Tidak, beliau tidak asal bertindak. Tetapi beliau bertindak dengan matang, dibekali oleh persiapan pribadi, pasukan, teknologi, dan tentu saja strategi yang jitu. Ilmu sebelum amal benar-benar dilakukan oleh Al Fatih. Tidak asal bertindak.

Kesabaran Dalam Berperang

Kiat sukses selanjutnya ialah kesabaran. Mulai dari kesabaran dalam mempersiapkan diri sampai kesabaran dalam berperang. Seperti dijelaskan diatas, bahwa Muhammad Al Fatih tidak terburu-buru menyerang, tetapi berbagai persiapan dilakukan terlebih dahulu.
Kemudian, saat peperangan dimulai, diperlukan waktu 54 hari untuk menaklukan kota Konstantinopel. Hampir dua bulan, hidup dalam peperangan, capek, dan nyawa terancam. Tetapi Muhammad Al Fatih dan pasukan tetap teguh dalam usahanya menaklukan kota Konstantinopel. Inilah yang disebut sabar, sabar saat berusaha, bukan sabar yang diam atau menyerah.
Artinya kita pun perlu memiliki kesabaran dalam meraih cita-cita kita. Kita harus sabar mulai dari persiapan dan sabar dalam menempuh perjalanan menuju tujuan kita. Ini kiat sukses sederhana, namun sedikit sekali orang yang mau melakukannya. Mudah-mudahan kiat sukses ini tambah meresap dan menghujam ke hati kita.
“Bermunajat hanya kepada Allah, jauhkan diri dari maksiat, bertahajjud pada malam hari dan berpuasalah pada esok hari.” – Muhammad Al Fatih

Kesimpulan

Setelah saya memetik hikmah dari perjuangan idola saya, Al Fatih, saya memutuskan untuk mengoptimalisasi semua usaha yang selama ini saya lakukan. Saya sadar, untuk mencapai sesuatu yang luar biasa diperlukan persiapan dan usaha yang luar biasa sambil tidak lupa tetap meminta pertolongan dari Allah.
Saat Anda mengatakan susah, artinya memang perlu membina diri atau mempersiapkan diri agar apa yang ada dihadapan Anda menjadi bisa dilakukan.
Semoga, saya dan Anda bisa mewarisi kiat sukses dari Al Fatih, sehingga akan muncul Al Fatih-Al Fatih baru yang siap menyosong masa depan untuk kejayaan umat Islam. Yuk, mulai sekarang kita menerapkan kiat sukses yang luar biasa ini.
Kiat sukses lain dari Muhammad Al Fatih


motivasi-islami.com
>>> Continue Reading Here

Rahasia Fokus dan To Do List

Rahasia Fokus dan To Do List

Begitu banyak, para ahli yang menyuruh kita supaya fokus. Fokus ada kunci sukses. Hanya dengan fokus, Anda akan mendapatkan hasil yang prima. Masalahnya, bagaimana caranya supaya kita fokus? Dalam berbagai kesempatan, saya sering mengatakan, yang dimaksud fokus ialah mengerjakan satu hal, dalam satu waktu, dan satu pikiran.
Memilih satu hal adalah mudah. Begitu juga memilih satu waktu adalah mudah. Yang seing menjadi hambatan ini menentukan satu pikiran. Inilah penghambat utama kita tidak fokus. Kabar buruknya, justru ini yang sering tidak disadari. Lalu apa kabar baiknya?
Kabar baiknya Anda sudah membaca artikel ini. Artinya, jika selama ini Anda tidak fokus, mungkin penyebabnya Anda tidak bisa memusatkan pikiran pada satu pekerjaan. Hal ini bisa terlihat saat Anda mengerjakan satu tindakan dalam satu waktu, tetapi hasilnya tidak sesuai dengan apa yang Anda harapkan (atau yang diharapkan oleh bos Anda). Hal ini terjadi, karena pikiran tidak fokus. Mirip dengan komputer, saat Anda membuka program bersamaan, maka RAM komputer Anda akan terbagi untuk menjalankan berbagai program, sehingga kinerja program Anda menjadi lambat, bahkan bisa nge-hang.
Cara mengatasinya ialah kita harus bersedia secara sukarela untuk menutup program-program lainnya. Begitu juga dengan pekerjaan kita, kita harus secara sukarela menghapus pikiran-pikiran tentang pekerjaan yang tidak sedang Anda kerja. Hapuslah semua rencana, ide, gagasan, dan pertanyaan tentang pekerjaan lainnya. Setelah menghampusnya, Anda baru bisa fokus pada pekerjaan utama Anda saat ini. Lalu bagaimana cara menghapusnya?

8 Langkah Menuju Fokus

Salah satu cara sederhana yang bisa Anda lakukan ialah dengan memindahkan apa yang ada dalam pikiran Anda ke dalam kertas atau komputer.
  1. Langkah pertama, identifikasikan pekerjaan apa saja yang harus Anda kerja. Tuliskan ke dalam sebuah kertas atau di dalam komputer.
  2. Langkah kedua, pilihlah pekerjaan yang “harus” dikerjakan sekarang. Kemudian tuliskan dalam sebuah dafar yang saya sebuat “Fokus Today”.
  3. Langkah ketiga, coret atau hapus pekerjaan lain yang tidak perlu dikerjakan. Semuanya harus! Betul, cobalah berpikir keras, adakah yang tidak diperlukan.
  4. Langkah keempat, berikan skala prioritas pekerjaan yang Anda pertahankan. Ingat, bahwa ini adalah daftar pekerjaan yang tidak harus dilakukan sekarang.
  5. Langkah kelima, buatlah catatan seperlunya tentang pekerjaan-pekerjaan yang tidak harus dilakukan sekarang. Inilah proses memindahkan apa yang ada di dalam kepala Anda ke dalam kertas.
  6. Langkah keenam, simpan catatan ini ke dalam kelompok “Next Action”, baik dalam folder/map fisik maupun dalam folder komputer.
  7. Langkah ketujuh, mintalah pikiran Anda, secara sadar untuk melupakan dulu daftar pekerjaan next action.
  8. Langkah kedelapan, sekarang fokuslah pada pekerjaan yang harus dilakukan sekarang.
Selamat bekerja dengan fokus. Terapkan langkah-langkah sederhana ini, dan lihatlah hasilnya dalam beberapa pekan ke depan. Saya tunggu pengalaman Anda. Saya bisa fokus dengan cara ini.

To Do List Dan Fokus

Dalam istilah manajemen waktu, ada yang disebut dengan “To Do List”, yaitu daftar tindakan yang harus dilakukan. Sayangnya, ternyata banyak orang yang membuat to do list, tetapi tidak bisa melakukan apa yang ada di dalam to do list. Mengapa bisa terjadi? Jika To do list tidak bisa dilakukan, maka tidak ada hasil yang akan kita peroleh.
Apa penyebab yang membuat sebuah to do list tidak dilakukan atau hanya sebagian yang bisa dilakukan? Penyebabnya adalah:
Isi dari to do list terlalu banyak. Anda sudah selesai membuat dan ternyata daftar tindakan Anda begitu panjang. Secara psikologis akan muncul perasaan enggan. Biasanya orang mengatakan “bingung harus mulai dari mana”
Mengapa isi to do list tersebut terlalu banyak? Anda mungkin akan mengatakan “Semuanya memang harus dilakukan.” Betulkah? Belum tentu. Jika Anda belum melakukan analisis yang benar, bisa jadi 80% pekerjaan Anda sebenarnya tidak perlu dilakukan. Bisa jadi, dari daftar tindakan tersebut, hanya 20% saja yang sebenarnya perlu dilakukan.
Ini artinya, kita masih belum bisa fokus pada hal-hal penting saja. Kita mengerjakan semuanya karena kita menganggap semuanya penting.
“Tapi memang semuanya penting koq! Tak ada satu pun yang bisa ditinggalkan.”
Yah, bisa jadi. Semuanya penting. Saya percaya, sebab memang kewajiban kita lebih banyak dari waktu yang kita miliki. Jadi, waktu kita tidak akan pernah cukup. Bukankah Anda sering mendengar perkataan “tidak punya waktu”? Lalu bagaimana cara mengatasinya? Kuncinya ada di keputusan Anda. Anda harus berani mengambil keputusan, mana yang akan Anda kerjakan, mana yang tidak.
Tapi, masalah yang muncul sebagai karyawan ialah tidak memiliki kewenangan untuk memilih mana yang akan dikerjakan mana yang tidak. Semua tugas datang dari atasan dan semuanya harus dilakukan. Tugas yang datang dari atasan tidak ada hentinya sementara tugas sebelumnya belum selesai.
Tidak perlu mengeluh, sebab itu pun keputusan Anda untuk menjadi karyawan. Cara mengatasinya ialah Anda harus memiliki kecepatan kerja yang lebih baik. Menyingkirkan semua penghambat kerja, hal-hal yang tidak produktif, dan secara mental kita tidak menunda-nunda pekerjaan.
Jadi, agar “to do list” Anda bisa dikerjakan ada dua kunci. Yang pertama kurangi daftar pekerjaan Anda. Jika memungkinkan sampai tinggal 20% saja. Kunci yang kedua adalah kembangkan kecepatan kerja Anda. Cara melakukan kedua kunci ini bisa Anda baca pada modul-modul Revolusi Waktu.
Agar Anda bisa fokus, Anda juga memerlukan kemampuan membuat to do list yang ramping.

Motivasi Islami




>>> Continue Reading Here

Dimana Komitmen ?



Kala sunyi senyap menghanyutkan
Seorang diri dalam lamunan
Tiba-tiba kekuatan itu datang
Dengan sebuah jawaban tanya

"Dimana kalian?"
"Jangan bertanya, mengapa aku sendiri?"
Karena hakikatnya, aku bersama dengan Allah
Innallaha ma'ana

Maka dimana komitmen itu dahulu
Sementara dengan mudahnya
Meninggalkan majelis yang membersamai
Jiwa-jiwa yang tenang mencintai dan dicintai Allah

Tak kan habis manusia-manusia
Yang akan Allah pilih di bumi persada
Tak kan habis penolong-penolong agama Allah
Meski dengan jumlahnya yang sedikit

Padahal begitu nikmat dalam jama'ah
Jika seorang diri tertatih bahkan terjerumus

Maka dimana komitmen?
Bersama saudara menjejak kafilah yang telah berlalu
Mengumpul bekal-bekal diri
Sebagai pejalan menuju kampung akhir

Kesenangan yang Allah siapkan baginya
Jauh lebih indah dari kesenangan kini
Setiap gerik langkahnya
Berbuat
Meninggalkan
Kan terbalas pada hari penghisaban
Hari keadilan seadil-adilnya

Sejenak refleksi hati saat ini
Dimana komitmen yang terpatri dahulu

Belumkah jelas keterangan dari Rasulullah
Atas bashirah yang telah sampai pada kalbu
Belumkah lahir cinta kepada manusia terkasih
Berjiwa mulia dengan penuh pengorbanan
Menyampaikan risalah panji islam
Dan janji bertemu dengannya kelak
Di suatu hari nanti
Saat waktu yang dijanjikan

Indahnya perjumpaan dengannya
Begitu rindu kalbu
Ingin melihat rupanya

Tapi,
Waktu itu misteri
Hanya Allah pengatur alam ini yang Maha Tahu
Kapan tiba sangkakala dibunyikan

Maka dimana komitmen itu?
Yang telah sulit kita bangun
Melawan dan menahan nafsu
Menjadi budak syaitan budak dunya

Kita telah proklamirkan bersama
Kemerdekaan jiwa kita yang hina
Kala menghamba pada makhluk
Tuk menjadi hamba yang hanya menyembah Allah saja
Yang hanya bergantung pada sang Khalik yang Menciptakan
Yang hanya menghamba pada Allah Yang Maha Kuasa

Dimana komitmen itu?

Kuingatkan diriku dan dirimu
Bersama memegang komitmen itu
Kafilah ini tidak butuh nama kita
Kan terus mereka berjalan ada atau tidaknya kita
Karena kita yang butuh berada di jalan ini
Sebagai perbekalan berkumpul di tempat
Adanya Rasulullah dan para nabi
Bersama orang-orang shalih

Sekeras apakah hati?
Sesulit meruntuhkan keegoan diri
Menghancurkan lumut perbudakan syaithan
Hingga melahirkan cabang-cabang alasan
Menjauh dari jalan ini.

Bangun komitmen kembali
Yang lemah, lesu, sakit, sekarat
Dengan ilmu dan berjama'ah
Allah kan turunkan rahmat dan kemudahan
Atas setiap kesungguhan.

Dimana kalian?
Tetapkah kalian dengan khusyuk di sepertiga malam akhir
Komitmen tiada hari berlewat tanpa tadabbur AlQuran
Mujahadah dalam amal jama'i
Hingga tanya, mengapa taat itu berat dan pahit?
Ternyata karena surga itu manis


>>> Continue Reading Here

Rabu, 09 Januari 2013

Agar Senantiasa Kembali



Bila perlu
Anggap saja dirimu sedang tertimpa ujian
Terdeteksi penyakit dalam stadium akhir
Yang sebentar lagi kan mengakhiri hidup

Fathanah, sahabatku...
Yang selama ini rela menjadi tempat
Ku ukir isi hati tuk mendekat padaNya

Yah, penyakit yang telah menggrogoti seluruh tubuhku
Melanglang buana ingin mencabik bugarnya setiap gerak
Karena tak tahan lagi melihat tingkah
Yang telah mulai menjauh dari sang pemilik tubuh



Agar kau senantiasa kembali
Melangkah bersimpuh di hadapanNya
Bersujud merayu merintih pada yang Maha Pemberi
Agar kau tahu...
Setiap nafasmu akan ditanya...
Maka apa yang menghalangimu taubat padaNya
Agar ringan hatimu dalam beribadah
Karena kau yakin hidup di dunia tak lama lagi

Masihkah kau ingin berleha-leha
Padahal semua telah mendahuluimu tuk meraih ridhaNya
Sejenak renungkan
Di sisa-sisa waktu itu
Pada episode menjemput hari akhir
Apa agenda yang ingin dicapai
Dalam mengejar target-target bekal akhirat
Pulang ke kampung akhirat yang abadi

Padahal episode itu sama sekali rahasia
Berapa selang waktunya
Tuk selesaikan impian-impian indah
Mengukir nama baik disana
Dalam buku catatan amal

Dunia
Sungguh hanyalah tempat beramal
Akhirat
Bukanlah tempat kembali beramal
Akan tetapi tempat menuai hasil setiap ruas amal
Tiap jerih
Tiap keringat
Tiap perih
Tiap sakit
Tiap kekecewaan
Tiap keletihan
Tiap apapun yang telah keluar
Tuk menjadi hamba yang shalih di sisiNya



Anggap saja itu...
Stadium akhir di ambang hidup kan tiba
Karena sebaik-baik nasihat adalah mengingat kematian
Ingat... Sebentar lagi akan berakhir nyawa ini.
>>> Continue Reading Here

Syahid Copyright © 2009
Scrapbook Mania theme designed by Simply WP and Free Bingo
Converted by Blogger Template Template