Jumat, 28 Desember 2012

Aku meninggalkannya karena Allah...


Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

إِنَّكَ لَنْ تَدَعَ شَيْئًا للهِ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ بَدَّلَكَ اللهُ بِهِ مَا هُوَ خَيْرٌ لَكَ مِنْهُ

"Sesungguhnya tidaklah engkau meninggalkan sesuatu karena Allah 'Azza wa Jalla, kecuali Allah akan menggantikannya bagimu dengan yang lebih baik bagimu" (HR Ahmad no 23074)


Fiqh Hadits :

PERTAMA : Lafal ( شَيْئًا= sesuatu), adalah kalimat nakiroh dalam konteks kalimat nafyi (negatif) memberikan faedah keumuman. Artinya "sesuatu" apa saja yang engkau tinggalkan karena Allah…

Bisa jadi sesuatu yang ditinggalkan adalah :
(1) Perkara yang haram yang sangat mungkin ia lakukan, akan tetapi ia meninggalkannya karena Allah, seperti
  • Seseorang yang kaya raya karena bekerja sebagai pegawai instansi yang berpenghasilan riba, lalu ia meninggalkan pekerjaan yang menggiurkan tersebut.
  • Seseorang yang hatinya tergerak untuk bermaksiat, sangat berkesempatan untuk berzina, atau untuk menyaksikan tayangan-tayangan yang haram dan vulgar, lalu ia meninggalkannya karena Allah
  • Seseorang yang diajak untuk bermaksiat…akan tetapi ia meninggalkannya karena Allah.

(2) Perkara yang halal, akan tetapi ditinggalkan karena ada kemaslahatan yang besar. Contohnya :
  • Seseorang memiliki harta untuk membeli sesuatu yang ia sukai, akan tetapi ada panggilan untuk melaksanakan ibadah umroh yang juga membutuhkan dana yang besar, maka iapun meninggalkan perkara yang ia sukai karena Allah demi menjalankan ibadah umroh
  • Seseorang yang memiliki harta untuk membeli kebutuhannya, akan tetapi ternyata ada kerabatnya atau saudaranya sesama muslim yang membutuhkan bantuannya, maka iapun meninggalkan untuk membeli kebutuhannya tersebut demi untuk membantu saudaranya tersebut.
  • Seseorang yang dipanggil untuk bertamsya gratisan, dan ia sangat senang untuk melakukan tamasya tersebut, akan tetapi ternyata jadwal tamasya tersebut bertepatan dengan jadwal pengajian. Lalu iapun meninggalkan tamasya tersebut agar bisa mengikuti pengajian.

(3) Perkara yang telah digariskan oleh Allah, terpaksa ia tinggalkan, akan tetapi ia meninggalkannya dengan niat karena Allah. Contohnya : seseorang yang terpaksa meninggalkan harta dan tanah kelahirannya karena ditekan oleh orang-orang kafir. Meskipun bentuknya ia meninggalkan harta dan tanah kelahirannya secara terpaksa karena intimidasi kaum kuffar, akan tetapi jika ia meninggalkannya karena Allah maka ia telah masuk dalam keumuman hadits di atas.

KEDUA : Lafal (  لِلَّهِ= "Karena Allah"), mengingatkan bahwa motivasi untuk meninggalkan "sesuatu" tersebut harus semata-mata karena Allah. Karenanya tidaklah termasuk dalam kategori "Karena Allah" :
  • Seseorang yang meninggalkan kemaksiatan akan tetapi semata-mata karena takut cibiran dan celaan masyarakat
  • Seseorang yang meninggalkan kemaksiatan karena takut kesehatannya terganggu. Seperti seseorang yang meninggalkan rokok dan bir, karena khawatir akan terkena penyakit paru-paru atau penyakit yang lainnya.
  • Seseorang yang meninggalkan kemaksiatan karena ingin dipuji oleh masyarakat.
  • Seseorang yang meninggalkan pekerjaan yang haram karena tidak enak sama teman-temannya.

Karenanya permasalahan "Karena Allah" merupakan perkara yang sangat urgen, karena ini adalah penentu tentang terwujudkannya janji Allah untuk menggantikan dengan yang lebih baik dari perkara-perkara yang ditinggalkan.



KETIGA : Lafal (بَدَّلَكَ اللهُ بِهِ مَا هُوَ خَيْرٌ منه = Allah akan menggantikan yang lebih baik bagimu daripada yang kau tinggalkan)

Lafal (ما = yang lebih baik) adalah ما al-maushuulah, yang dalam kaidah juga memberikan faedah keumuman. Karenanya bisa jadi:
  • Allah menggantikan sesuatu yang ditinggalkan karena Allah dengan perkara yang sejenis dengan perkara yang ditinggalkan, hanya saja lebih baik
  • Allah mengganti dengan perkara yang lebih baik akan tetapi tidak sejenis dengan perkara yang ditinggalkan
  • Allah menggantikan baginya dengan menghilangkan atau memalingkan darinya musibah atau bencana atau kesulitan yang tadinya akan menghadangnya.



KEEMPAT : Contoh-contoh kisah akan bukti hadits ini

Realita banyak mencontohkan akan bukti hadits ini, diantaranya

(1) Para sahabat kaum muhajirin yang harus meninggalkan tanah air mereka, rumah, serta harta mereka demi untuk berhijrah ke Madinah sehingga bisa beribadah kepada Allah dengan baik tanpa diintimidasi oleh kaum musyrikin Arab. Akhirnya Allah menggantikan bagi mereka harta yang lebih banyak dan kekuasaan serta kemenangan atas kaum musyrikin. Bahkan Allah menjadikan mereka menguasai kembali tanah air mereka Mekah. (lihat Tafsiir Ibnu Katsiir 4/572)

(2) Kisah Nabi Sulaiman 'alaihis salaam yang meninggalkan kuda-kuda kesenangannnya dengan menyembelih kuda-kuda tersebut karena kuda-kuda tersebut telah melalaikan beliau hingga tidak sempat sholat di petang hari hingga matahari tenggelam. Ia pun menyembelih kuda-kuda tersebut dan disumbangkan karena Allah.

Akhirnya Allah pun menggantikan kuda-kuda tersebut dengan angin yang mengalir dengan cepat dan mengalir ke arah yang dikehendaki oleh nabi Sulaiman 'alaihis salaam. (Lihat Taisiir Al-Kariim Ar-Rahmaan hal 712)

(3) Kisah Nabi Ibrahim 'alaihis salaam yang harus meninggalkan kaumnya, meninggalkan kerabat dan keluarganya yang menyembah patung, lalu berhijrah menuju Palestina, maka Allah pun menggantikan baginya anak-anak yang sholeh. Diantaranya Ishaq 'alaihis salaam yang akhirnya dilahirkan oleh Sarah yang telah mencapai masa monopouse.

Allah berfirman :

فَلَمَّا اعْتَزَلَهُمْ وَمَا يَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَهَبْنَا لَهُ إِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَكُلا جَعَلْنَا نَبِيًّا (٤٩)

"Maka ketika Ibrahim sudah menjauhkan diri dari mereka dan dari apa yang mereka sembah selain Allah, Kami anugerahkan kepadanya Ishak, dan Ya'qub. dan masing-masingnya Kami angkat menjadi Nabi" (QS Maryam : 49) (lihat kitab Tafsiir As-Sirooj Al-Muniir karya Asy-Syirbini 2/340)

Tentunya meninggalkan kerabat dan kampung halaman merupakan perkara yang berat, akan tetapi Ibrahim 'alaihis salam meninggalkannya karena Allah. (Taisiir Al-Kariim Ar-Rahmaan hal 494)

(4) Barang siapa yang menjaga pandangannya dengan meninggalkan memandang perkara-perkara yang haram, maka Allah akan memberikan cahaya pada pandangannya dan menambah manis imannya. (lihat Taisiir Al-Kariim Ar-Rahmaan hal 566)

(5) Kisah tentang Aisyah radhiallahu 'anhaa yang sedang berpuasa, lalu ada seorang miskin yang meminta makanan kepada Aisyah, sementara Aisyah tidak memiliki kecuali hanya sepotong roti. Lalu Aisyah memerintahkan budak wanitanya untuk memberikan sepotong roti tersebut kepada sang miskin, maka sang budak berkata, "Engkau bakalan tidak memiliki makanan untuk berbuka puasa". Akan tetapi Aisyah tetap memerintahkannya untuk memberikan roti tersebut kepada sang miskin. Maka ternyata tatakala sore hari ada seseorang yang memberikan hadiah seekor kambing yang sudah dimasak untuk Aisyah. (Lihat Tafsiir Al-Qurthubi 18/26)

(6) Kisah tentang Ummu Sulaim yang anaknya meninggal lalu tatkala datang sang suami maka iapun menghias dirinya untuk merayu sang suami –Abdullah bin Abi Tholhah- yang baru datang dari safar agar terlalaikan berita kematian anaknya. Ummu Sulaim telah sabar tatkala harus meninggalkan anaknya yang meninggal tersebut. Akhirnya ternyata hubungan antara ia dan sang suami tatkala itu dan seterusnya membuahkan sembilan orang anak semuanya adalah qori' al-Qur'an (lihat Syarah Shahih Al-Bukhari karya Ibnu Bathhool 3/285)

(7) Sebuah kisah yang disebutkan dalam kitab Tafsir Al-Bahr Al-Madid karya Ibnu 'Ajiibah Abul 'Abbaas Al-Faasi tentang seorang pemuda penuntut ilmu yang tinggal di daerah Faas. Suatu hari ada seorang ibu keluar bersama putrinya yang cantik jelita. Maka ternyata sang putri ketinggalan dari ibunya sehingga akhirnya tertahan hingga malam hari. Maka ia pun melihat dari kejauhan sebuah pintu yang nampak ada lampu nyala dibalik lampu tersebut. Lalu ia mengintip di balik pintu tersebut ternyata ada seorang penuntut ilmu yang sedang membaca buku. Maka dalam hati putri cantik ini ia berkata, "Jika tidak ada kebaikan pada pemuda ini maka tidak ada kebaikan pada seorangpun". Maka iapun memberanikan diri untuk mengetuk pintu, lalu dijawab oleh sang pemuda. Lalu sang putri pun menceritakan tentang kondisinya yang ketinggalan ibunya, dan ia khawatir jika ia berjalan di malam hari akan ada orang yang mengganggunya. Maka akhirnya sang pemuda merasa wajib baginya untuk menjaga putri tersebut. Lalu iapun memasukan putri tersebut dalam rumahnya, lalu ia menjadikan penghalang berupa tikar antara ia dan sang putri, lalu iapun melanjutkan membaca buku. Lalu datanglah syaitan menggodanya. Akan tetapi karena keberkahan ilmu maka Allah pun menjaga pemuda ini. Iapun segera mengambil api lampu lalu iapun menggerakan jarinya ke lampu tersebut, satu demi satu jari-jarinya ia letakkan di api lampu tersebut hingga membakar jari-jarinya. Sang wanita mengintip sikap pemuda tersebut dan ia takjub dengan sikap tersebut. Sementara sang pemuda terus memanasi jarinya. Lalu sang pemuda memanaskan jari-jarinya dari tangannya yang satunya lagi, hingga akhirnya tiba pagi hari dan nampak cahaya terang, maka iapun mempersilahkan sang putri untuk keluar dari rumahnya dan segera pulang. Akhirnya sang putripun pulang ke rumahnya dan menceritakan tentang kisah sang pemuda. Maka segeralah ayah sang putri mendatangi majelis ilmu dan mengabarkan tentang kisah sang pemuda kepada syaikh/guru di majelis tersebut. Maka sang guru  meminta agar seluruh para penuntut ilmu mengeluarkan kedua tangan mereka. Seluruh muridpun mengeluarkan kedua tangan mereka kecuali sang pemuda. Maka syaikh pun tahu siapa pemuda tersebut, lalu akhirnya sang ayah menikahkan sang pemuda dengan putrinya tersebut" (Al-Bahr Al-Madiid 3/375)
Karenanya yakinlah jika anda meninggalkan sesuatu benar-benar tulus semata-mata karena Allah maka pasti Allah akan menggantikan dengan yang lebih baik. Sungguh hati ini sangat terharu tatkala mengetahui ada seorang pegawai bank yang akhirnya meninggalkan pekerjaan ribanya lalu kemudian dengan sabarnya menjadi seorang penjual bakso. Allah pasti akan menggantikan baginya yang lebih baik, apakah di dunia maupun di akhirat, cepat atau lambat.

Kota Nabi -shallallahu 'alaihi wa sallam-, 11-02-1434 H / 24 Desember2012 M
Abu Abdilmuhsin Firanda Andirja
www.firanda.com
>>> Continue Reading Here

''Sesabar Pohon Mangga''




Tetaplah dengan sunggingan senyummu
Memancar semburat cahya iman
Dengan hijabmu yang syar'i sebagai alat kepatuhan
Lengkap dengan sejatinya ghadul bashar
Tahanlah semua cercaan di hatimu

Tumpahkan saat engkau balik sujud kepadanya
Biarkan hatimu berbincang membukanya
Dan ketenangan itu akan hadir
Karena hanya mengingatnya,
Lahir jiwa mutmainnah

 Simpanlah rapat dalam diary hati
Cukup berdua asyik yang mengetahuinya
Oh betapa perih...
Tapi nikmat sebagai ujian darinya

Hanya dia yang menyaksikan seluruhnya
Awal hingga akhir
Maka dia pula dan kekasihnya yang kan menjadi saksi kelak

Seperti pohon mangga yang dilempar batu
Dia membalas dengan kasih sayang kebaikan
Memberi buah mangga yang mengenakkan rasanya

Sulitkah menjadi seperti makhluk Allah yang satu itu?
Menjadi sebaik-baik manusia hari ini
Penebar kebaikan dimanapun berada
Kapanpun dibutuhkan
Pohon yang senantiasa bertasbih itu
kan memberi yang terbaik

Belajar dari seluruh yang kita lihat
Dari yang kita alami
Hingga yang kita rasakan
Dan yang kita dengar
Dari manusia-manusia bijak
Dari makhluk hidup kawanan tumbuhan dan binatang
Serta seluruh alam ciptaan
Yang disusun, diatur, oleh pemiliknya
Ialah Rabbku, Rabb kita, Rabb semua

Jadilah manusia terbaik itu!
Hingga penduduk langit dan bumi
Sangat elok mengenal jejak kita
Menyusuri bentang jalannya,
tebaran debu-debunya
Rindang hujannya
Mentari dan bulan tak luput menyaksikan
Seluruh potret kejadian luar biasa
Yang telah melanjutkan misi para Nabi dan Rasul.

 
>>> Continue Reading Here

Peran Ibunda Imam Syafi'i dalam pendidikan putranya


Allah subhanahu wa ta’ala adalah Dzat Yang Maha Berkehendak. Rahmat-Nya juga sangat luas dan pasti akan sampai kepada siapa saja yang Ia kehendaki untuk dirahmatiNya.
Salah satu karunia besar yang diberikan kepada al-Imam asy-Syafi’i adalah ibundanya yang sangat paham akan pentingnya mencari ilmu (agama). Sehingga meskipun hidup sebagai anak yatim dan ibundanya tidak memiliki harta, jadilah Muhammad bin Idris menjadi al-Imam asy-Syafi’i yang kita kenal hingga sekarang sebagai salah seorang imam besar.
Kemiskinan dan hidup sebagai anak yatim tidak menjadi penghalang bagi beliau untuk menggapai kedudukan yang tinggi. Tentunya ini semua atas kehendak dan karunia Allah, kemudian keinginan yang kuat dari ibundanya.
Al-Imam asy-Syafi’i menuturkan sendiri tentang kondisi ibunya yang miskin:
“Aku tumbuh sebagai seorang yatim di bawah asuhan ibuku, dan tidak ada harta pada beliau yang bisa diberikan kepada guruku. Dan ketika itu guruku merasa lega dariku hanya dengan aku menggantikannya apabila ia pergi.”
Beliau juga mengatakan: “Aku tidak memiliki harta. Dan aku menuntut ilmu ketika masih muda.”
Setelah tinggal beberapa lama untuk membesarkan Syafi’i kecil di daerah Ghazah, ‘Asqalan, Yaman, ibunda al-Imam asy-Syafi’i membawanya ke negeri Hijaz. Ibunda asy-Syafi’i memasukkan Syafi’i kecil ke dalam kaumnya, yaitu kabilah al-Azdi, karena ibunda Syafi’i keturunan kabilah al-Azdi. Dan mulailah Syafi’i kecil menghafal al-Qur’an hingga berhasil menghafal seluruh al-Qur’an pada usia tujuh tahun.
Tinggallah ibunda asy-Syafi’i bersamanya di tengah-tengah kabilah ini hingga Syafi’i berusia sepuluh tahun. Ketika telah berusia sepuluh tahun, ibunda Syafi’i khawatir nasab keturunan beliau yang mulia akan dilupakan dan hilang. Yaitu nasab keturunan yang masih bertemu dengan nasab Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka ibunda Syafi’i membawa memindahkannya ke kota Makkah. (Tawali Ta’sis karya Ibnu Hajar dengan beberapa penyusaian)
Di antara perhatian ibunda Syafi’i yang besar terhadap ilmu, ia tidak membukakan pintu untuk Syafi’i ketika pulang dari majelis salah seorang ulama di masa itu agar Syafi’i kembali ke majelis tersebut hingga mendapatkan ilmu. (‘Uluwwul Himmah)

Pelajaran-pelajaran:
Dari sekilas kisah di atas kita dapatkan beberapa pelajaran yang penting yang semoga memberikan manfaat untuk kaum muslimin secara umum:
1. Peran seorang ibu dalam membentuk dan mendidik anak.
2. Kemiskinan dan kesempitan tidak seharusnya dijadikan alasan untuk meninggalkan upaya mendalami ilmu agama.
3. Kemiskinan dan kesempitan tidak selayaknya dijadikan sebagai alasan untuk meninggalkan ibadah yang diwajibkan baginya.
4. Pentingnya menjaga semangat dalam meraih kesuksesan.
5. Pentingnya seseorang untuk memilih seorang wanita shalihah yang nantinya sebagai pendidik dan teladan bagi putra-putrinya. Sebab bila seorang ibu adalah orang yang tidak shalih, selain akan membuat susah suami di dunia dan akhirat, juga akan menghancurkan masa depan anak-anak. Mencari seorang calon ibu bagi anak-anak yang shalihah baik agamanya, tidak hanya memandang pada perkara dunia baik kedudukan, kecantikan, atau harta.
6. Orang tua yang baik memikirkan tidak sebatas bisa mem’bahagia’kan anak di dunia ini, tetapi orang tua yang baik juga berusaha menjadikan anak sebagai generasi yang akan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Sumber: http://fatwasyafii.wordpress.com/
kisahislam.net
>>> Continue Reading Here

Yakin Masuk Surga?


Sebagian umat Islam di antara kita begitu gampangnya meyakini dirinya akan selamat dari adzab Allah, selamat dari ancaman neraka. Ia beralasan sebagai muslim yang mengucapkan syahadat pasti pada akhirnya menuju surga (walau merasa siap dicuci dulu di neraka).  Sebagian lagi merasa dirinya telah banyak berbuat baik, telah beribadah dengan baik, maka kalaupun ada dosa-dosa kecil atau besar pasti  Allah yang Maha Pengampun akan menghapus dosanya karena sebab kebaikan akhlak atau ibadah yang sudah ia lakukan.
Prinsip tersebut jelas sangat gegabah, karena orang-orang sholeh terdahulu dari generasi Islam terbaik (yaitu generasi shahabat Nabi shalallahu alaihi wasalam, dan sudah dijamin masuk surga) saja masih merasa takut tidak selamat dari adzab Allah. 
Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, bahwa ia mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Seseorang tidak akan masuk surga karena amalannya (semata)”. Sahabat bertanya: “Termasuk engkau, ya Rasulullah?” Beliau Shallallahu ’alaihi wa sallam menjawab: “Termasuk aku, kecuali jika Allah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepadaku”. [HR Bukhâri dan Muslim].
Jadi, sebesar apapun perbuatan baik dan ibadah yang kita lakukan selama di dunia tidak akan mampu ditukar untuk membeli kenikmatan surga  (bahkan Rasulullah sekalipun).  Surga diperoleh semata karena rahmat dan karunia dari Allah kepada orang-orang beramal sholeh. Kita mendapat rahmat karena kita mau beramal sholeh. Jika tidak, maka kita termasuk orang yang tidak berhak mendapat rahmat Allah.  
Sudah banyak berbuat baik saja belum tentu masuk surga, apalagi kalau menjadi Islam sekedarnya saja.  Termasuk manakah prinsip diri kita dalam meyakini perkara keselamatan akhirat ini?
Untuk lebih jelasnya bahasan mengenai prinsip yang salah namun banyak diyakini sebagian besar umat Islam ini maka kami kutipkan tulisan dibawah ini. 

Larangan Merasa Aman dari Adzab Allah
Dari Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu; dia berkata,
“Dosa besar yang paling besar adalah menyekutukan Allah, merasa aman dari makar Allah, putus asa terhadap rahmat Allah, dan putus harapan terhadap kelapangan dari Allah.”
(Hadis hasan sahih; diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir; lihat Majma’ Az-Zawaid, juz 1, hlm. 104; kutip dari muslimah.or.id)
Ancaman Allah terhadap mereka yang merasa aman dari adzabNya
Allah berfirman:
“Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur?” (Qs. Al-A’raf: 97)
Allah berfirman:
“Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain?” (Qs. Al-A’raf: 98)
Allah berfirman:
“Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiada yang merasa aman dan azab Allah kecuali orang-orang yang merugi.” (Qs. Al-A’raf: 99)
Tafsir mufassiriin tentang ayat-ayat diatas
Ibnu Katsir rahimahullahu berkata, “Allah berfirman mengabarkan betapa sedikitnya keimanan para penduduk negeri yang menjadi tempat diutusnya para rasul. Sebagaimana firman Allah,
“Dan mengapa tidak ada (penduduk) suatu kota yang beriman lalu imannya itu bermanfaat kepadanya, selain kaum Yunus? Tatkala mereka (kaum Yunus itu) beriman, Kami hilangkan dari mereka azab yang menghinakan dalam kehidupan dunia, dan Kami beri kesenangan kepada mereka hingga waktu tertentu.’ (Qs. Yunus: 98)” (Tafsir Ibnu Katsir, juz 3, hlm. 450)
Syekh As-Sa’di menjelaskan tafsir surat Al-A’raf:96—99 ini secara terperinci, dalam Taisir Karimir Rahman, hlm. 298. Mari kita renungi bersama.
“Ketika Allah Ta’ala menyebutkan bahwa orang yang mendustakan para rasul diuji dengan kemalangan, (musibah) itu merupakan nasihat sekaligus peringatan; mereka diuji dengan kesenangan sebagai istidraj dan makar (dari Allah). Disebutkan bahwa seandainya para penduduk negeri tersebut menyimpan iman dalam hati mereka dengan penuh kejujuran, niscaya amal perbuatan mereka akan membenarkan (baca: membuktikan) kejujuran tersebut.
Allah juga menumbuhkan – untuk mereka – segala tetumbuhan dari bumi yang menjadi sumber penghasilan mereka dan menjadi sumber pakan hewan ternak mereka. Dalam tanah yang subur terdapat mata pencaharian, dalam keberlimpahan terdapat rezeki, tanpa perlu merasakan kesusahan dan keletihan, tanpa perlu bekerja keras dan tanpa mengalami kepayahan. Meski demikian, mereka tidak beriman dan tidak bertakwa.
“… Maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.’ (Qs. Al-A’raf: 96)
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut, yang disebabkan oleh perbuatan tangan manusia, supaya Allah membuat mereka merasakan sebagian (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).’ (Q.s. Ar-Rum:41).”
Selain penjelasan tersebut, Syekh As-Sa’di juga menyebutkan tafsir untuk beberapa penggalan dari surat Al-A’raf, ayat 96—99,
• “Tidakkah penduduk negeri itu beriman“;
yang dimaksud (“penduduk negeri” dalam ayat tersebut) adalah ‘ para pendusta’, berdasarkan indikasi rangkaian kata (setelahnya) “akan datangnya siksa dari Kami“, yaitu ‘azab yang pedih’;
 “Di malam hari, saat mereka sedang tidur“
yaitu ‘saat mereka lengah, terpedaya, dan sedang beristirahat’;
 “Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain?”
maksudnya ‘apa gerangan hal yang membuat mereka merasa aman, padahal mereka telah melakukan berbagai faktor penyebab yang bisa mendatangkan bencana itu; mereka telah melakukan dosa-dosa yang sangat buruk, sehingga bagaimana mungkin mereka tidak diganjar dengan kebinasaan setelahnya?’;
 “Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)?”
maksudnya ‘ketika mereka dilenakan dari arah yang tidak mereka duga, dan Allah menyiksa mereka; sesungguhnya, tipu daya Allah begitu kuat’;
 “Tiada yang merasa aman dari azab Allah kecuali orang-orang yang merugi”,
maksudnya ‘maka sesungguhnya, orang yang merasa aman dari makar Allah adalah orang yang tidak membenarkan adanya balasan atas amalan yang telah dikerjakan. Dia juga tidak beriman dengan penuh kesungguhan kepada para rasul. Ayat yang mula ini menakut-nakuti secara umum, agar hendaknya para hamba tidak merasa aman dengan keimanan yang dimilikinya.
Akan tetapi, mereka senantiasa takut dan khawatir jika dirinya didera ujian yang dapat memberangus imannya. Juga, hendaklah dia senantiasa berdoa dengan mengatakan, ‘Wahai Dzat yang membolak-balik hati, tetapkanlah hatiku di atas agamamu,’ serta hendaknya dia beramal dan berusaha dengan menempuh setiap sebab yang memungkinkan dirinya terbebas dari keburukan ketika datangnya fitnah (ujian). Oleh karena itu, seorang hamba –walau dia telah sampai pada kondisi (keimanan)-nya saat ini– tak ada kepastian bahwa dia akan selamat.
Apa itu “makar Allah”?
Syekh Khalil Harras, dalam Syarh Al-’Aqidah Al-Wasithiyyah, hlm. 265, menguraikan,
“Sebagian salaf menafsirkan ‘makar Allah kepada hamba-Nya’ dengan arti ‘melenakan mereka (istidraj) dengan berbagai nikmat sedangkan mereka tidak mengetahui (bahwa ada azab yang menanti mereka, pen.)’. Setiap kali mereka berbuat dosa, Allah melimpahkan nikmat bagi mereka.
Dalam hadis disebutkan,
“Jika engkau melihat Allah memberi kepada hamba-Nya nikmat dunia yang dicintai jiwanya, padahal dia senantiasa bermaksiat, maka ketahuilah bahwa itu merupakan istidraj.’
(Hr. Ahmad, Ibnu Juraij, Ath-Thabrani, dan Ibnu Abi Hatim; diriwayatkan dari shahabat ‘Uqbah bin ‘Amir radhiallahu ‘anhu; hadis hasan; lihat Kanzul ‘Ammal, juz 11, hlm. 90; kutip dari muslimah.or.id).”
Wasiat Rasuulullaah untuk menjauhi dosa besar dan tidak meremehkan dosa-dosa kecil
Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda:
“Jauhilah kalian tujuh dosa besar; syirik kepada Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan alasan yang benar, memakan harta anak yatim, memakan harta riba, lari dari medan perang, menuduh berzina terhadap wanita yang suci.” (Muttafaqun alaih)
Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda:
“Maukah aku beritahukan kepada kalian tentang dosa-dosa besar yang paling besar?” (Beliau mengulanginya tiga kali.)
Mereka (para Sahabat) menjawab: “Tentu saja, wahai Ra-sulullah.”
Beliau bersabda: “Syirik kepada Allah, durhaka kepada kedua orang tua.”
(perawi berkata) -Ketika itu beliau bersandar lalu beliau duduk tegak seraya bersabda:-
“Dan ingatlah, (yang ketiga) perkataan dusta!”
Perawi berkata: “Beliau terus meng-ulanginya hingga kami berharap beliau diam.”
(HR Bukhaariy, Muslim dan selainnya)
Dan hadits-hadits semisalnya.
Råsulullåh shållallåhu ‘alayhi wa sallam:
“Sesungguhnya orang mukmin melihat dosa-dosanya seperti ia duduk di pangkal gunung, ia khawatir gunung itu akan menimpanya, sedangkan orang fajir (selalu berbuat dosa) melihat dosa-dosanya seperti lalat yang menempel di batang hidungnya, kemudian ia mengusirnya seperti ini* lalu terbang.”
*Abu Syihab (salah satu perawi hadits) mengisyaratkan dengan tangannya di atas hidungnya.
(HR. Bukhariy)
Ibnu Abi Jamrah rahimahullâh berkata,
“Sebabnya adalah, karena hati seorang Mukmin itu diberi cahaya. Apabila dia melihat pada dirinya ada sesuatu yang menyelisihi hatinya yang diberi cahaya, maka hal itu menjadi berat baginya. Hikmah perumpamaan dengan gunung yaitu apabila musibah yang menimpa manusia itu selain runtuhnya gunung, maka masih ada kemungkinan mereka selamat dari musibah-musibah itu. Lain halnya dengan gunung, jika gunung runtuh dan menimpa seseorang, umumnya dia tidak akan selamat. Kesimpulannya bahwa rasa takut seorang Mukmin (kepada siksa Allâh Ta’ala -pen) itu mendominasinya, karena kekuatan imannya menyebabkan dia tidak merasa aman dari hukuman itu. Inilah keadaan seorang Mukmin, dia selalu takut (kepada siksa Allâh-pen) dan bermurâqabah (mengawasi Allâh). Dia menganggap kecil amal shalihnya dan khawatir terhadap amal buruknya yang kecil”.
(Tuhfatul Ahwadzi, no. 2497; kutip dari majalah as-sunnah)
Råsulullåh shållallåhu ‘alayhi wa sallam bersabda kepada Ummul Mukminin ‘Aa-isyah radhiyallåhu ‘anha:
“Wahai Aisyah, takutlah engkau terhadap dosa-dosa kecil, karena ia akan dimintai pertanggungjawaban dihadapan Allah.”
(HR. Ahmad, ad-Darimiy, dll; dishahiihkan Syaikh al Albaaniy dalam ash shahiihah)
Råsulullåh shållallåhu ‘alayhi wa sallam bersabda
“Berhati-hatilah kalian terhadap dosa kecil, sebab jika ia berkumpul dalam diri seseorang akan dapat membinasakannya.”
(HR ahmad dan Thabrani dalam Al Awsath; dalam sanad kedua riwayat ini ada Imran bin Dawir Al Qaththan; namun dia dapat dipercaya, demikian kata Imam Al Haitsami dalam Majma’ Az Zawaid 10/192)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Aku benar-benar melihat diantara umatku pada hari Kiamat nanti, ada yang datang dengan membawa kebaikan sebesar gunung di Tihamah yang putih, lalu Allah menjadikannya seperti kapas berterbangan…
Tsauban bertanya, Ya Rasulullah, jelaskan kepada kami siapa mereka itu agar kami tidak seperti mereka sementara kami tidak mengetahui!
Beliau bersabda,
Mereka adalah saudara-saudara kalian dan sebangsa dengan kalian, mereka juga bangun malam seperti kalian, akan tetapi apabila mendapat kesempatan untuk berbuat dosa, mereka melakukannya.
(HR. Ibnu Majah, disahihkan oleh Syaikh Al-Bany dalam Silsilatul Ahaadits Shahihah No,505)
Teladan para shahabat yang senantiasa merasa takut akan adzabNya
Ibnu Mulaikah rahimahullahu berkata: “Aku mendapati tiga puluh orang sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, semuanya mengkhawatirkan kemunafikan atas dirinya.”
Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu sampai bertanya kepada Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu, apakah dirinya termasuk yang disebut oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai orang munafik.
Suatu ketika shahabat Anas Radhiallaahu ‘anhu pernah berkata kepada sebagian tabi’in: “Sesungguhnya kalian semua melakukan suatu perbuatan yang kalian pandang lebih kecil dari pada biji gandum padahal di masa Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam kami menganggapnya sebagai sesuatu yang dapat membinasakan. “ (Al Bukhari).
Berkata al Hasan al Bashriy: “Demi Allah ‘Azza wa Jalla, sungguh! Andai saja salah seorang dari kalian mendapati salah seorang dari generasi pertama umat ini sebagaimana yang telah aku dapati, serta melihat salah seorang dari Salafus Shalih sebagaimana yang telah aku lihat, niscaya di pagi hari dia dalam keadaan bersedih hati dan pada sore harinya dalam keadaan berduka. Dia pasti mengetahui bahwa orang yang bersungguh-sungguh dari kalangan kalian hanya serupa dengan orang yang bermain-main di antara mereka. Dan seseorang yang rajin dari kalangan kalian hanya serupa dengan orang yang suka meninggalkan di antara mereka.”
Di sini bukan berarti Anas mengatakan bahwa dosa besar dimasa Rasulullah dihitung sebagai dosa kecil setelah beliau wafat, namun itu semata-mata karena pengetahuan para shahabat akan keagungan Allah yang lebih sempurna. Makanya dosa kecil bagi mereka-jika sudah dikaitkan dengan kebesaran Allah- akan menjadi sangat besar. Dan dengan sebab ini pula maka suatu dosa akan dipandang lebih besar jika dilakukan orang alim dibandingkan jika pelakunya orang jahil, bahkan bagi orang awam boleh jadi suatu dosa dibiarkan begitu saja (dimaklumi) karena ketidaktahuannya yang mana itu tentu tidak berlaku bagi orang alim dan arif. Atau dengan kata lain bahwa besar kecilnya suatu dosa sangat berkaitan erat dengan tingkat pengetahuan dan keilmuan pelakunya
(ithaf as-sa’adah al-muttaqin 10/690).
Tapi meski bagaimanapun seseorang seharusnya dituntut untuk menganggap besar suatu dosa, sebab jika tidak demikian maka tidak akan lahir rasa penyesalan. Adapun jika menganggap besar atas suatu dosa maka ketika melakukannya akan disertai dengan rasa sesal. Ibarat orang yang menganggap uang receh tak bernilai, maka ketika kehilangan ia tak akan bersedih dan menyesalinya. Namun ketika yang hilang adalah dinar (koin emas) maka tentu ia akan sangat menyesal dan kehilangannya merupakan masalah yang besar.
(Sumber: Al-’Ibadat Al-Qalbiyah, Dr. Muhammad bin Hasan bin Uqail Musa Asy-Syarif,http://ibnujafar86.wordpress.com/2009/05/12/jangan-sepelekan-dosa-kecil/)
Sebagian ulama menyatakan: “Tidak ada yang takut dari kemunafikan kecuali mukmin, dan tidak ada yang merasa aman darinya kecuali munafik.” (dibawakan oleh Al-Bukhari rahimahullahu dari Al-Hasan Al-Bashri rahimahullahu)
Al-Imam Ahmad rahimahullahu ditanya, “Apa pendapatmu tentang orang yang mengkhawatirkan atas dirinya kemunafikan?” Beliau menjawab, “Siapa yang merasa dirinya aman dari kemunafikan?” (Lihat Jami’ul ‘Ulum wal Hikam)
Ibnu Taimiyah rahimahullahu berkata: “Sebagian orang mengira kemunafikan hanyalah ada di zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam saja, tidak ada kemunafikan setelah zaman beliau. Ini adalah prasangka yang salah. Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu berkata: ‘Kemunafikan pada zaman ini lebih dahsyat dari kemunafikan di zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.’ Mereka berkata: ‘Bagaimana (bisa dikatakan demikian)?’ Beliau menjawab: ‘Orang-orang munafik di zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyembunyikan kemunafikan mereka. Adapun sekarang, mereka (berani) menampakkan kemunafikan mereka’.”
Ibnu Rajab rahimahullahu berkata: “Kemunafikan asghar adalah jalan menuju kemunafikan akbar, sebagaimana maksiat adalah lorong menuju kekufuran. Sebagaimana orang yang terus-menerus di atas maksiat dikhawatirkan dicabut keimanannya ketika menjelang mati, demikian juga orang yang terus-menerus di atas kemunafikan asghar dikhawatirkan dicabut darinya keimanan dan menjadi munafik tulen.” (Lihat Jami’ul ‘Ulum wal Hikam)
Pelajaran (Hikmah Yang Dapat Diambil)
1. Termasuk dosa besar: merasa aman dari adzab Allah
2. Barangsiapa yang terus menerus dalam kemaksiatan kepada Allah, sementara ia berada dalam hidup yang enak; maka ini adalah tanda istidraaj Allah padanya.
3. Dosa besar, adalah sesuatu yang membinasakan pelakunya (khususnya syirik akbar dan kufur akbar) yang hendaknya dijauhi oleh setiap hamba dengan sejauh-jauhnya, dengan menjauhi pula sebab-sebab yang menghantarkan kita kepadanya.
4. Larangan meremehkan dosa-dosa kecil.
5. Dosa kecil apabila terkumpul dalam diri seorang hamba akan membinasakannya.
6. Seorang yang LURUS KEIMANANnya tidaklah melihat besar-kecilnya dosa, tapi ia melihat pada siapakah yang ia sedang durhakai.
7. Takutnya seorang mukmin terhadap dosa-dosa seharusnya sebagaimana takutnya ia tertimpa gunung.
8. Hendaknya seseorang mengingat akan dahsyatnya SAKRATUL MAWT, dahsyatnya FITNAH KUBUR, dahsyatnya hisab di PADANG MASYHAR, dahsyatnya ketika MELINTASI SHIRATH, dan dahsyatnya API NERAKA.
9. Peremehan dosa akan berakibat DIHAPUSNYA AMAL KEBAIKAN, meskipun kebaikannya seperti sebesar GUNUNG. Hal ini menandakan BETAPA AGUNG-nya Allah, yang mana Dia Cemburu terhadap hambaNya yang melakukan kedurhakaan terhadapNya, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits, yaitu ketika Sa’d bin Ubadah berkata,
“Kalaulah kulihat seorang laki-laki bersama isteriku, niscaya aku penggal dia dengan pedang di bagian mata pedangnya, bukan dengan pinggirnya.”
Berita ini kemudian terdengar oleh Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam, sehingga beliau bersabda:
“Adakah kalian merasa heran dengan kecemburuan Sa’d? Demi Allah, sungguh aku lebih cemburu daripada dia, dan Allah lebih cemburu daripada aku.
dan karena kecemburuan Allah itulah Allah mengharamkan segala kejahatan baik yang nampak maupun yang tersembunyi
(HR Bukhariy)
Dalam riwayat lain:
“Tidak ada yang lebih cemburu melebihi Allah. Karena itulah, Dia mengharamkan kekejian…”
(HR Bukhariy)
10. Teladan para shahabat yang AMAT DALAM ILMU-nya tentang Allah subhaanahu wa ta’ala.
11. Keutamaan para shahabat diatas tabi’iin
12. Kemunafikan (i’tiqadiy, maupun ‘amaliy) akan senantiasa ada hingga akhir zaman.
13. Salah satu tanda keimanan yang ada dalam hati adalah merasa takut dari adzab Allah, dan salah satu tanda merasuknya kemunafiqan dalam hati adalah ketika kita merasa aman dari adzab Allah.
14. Jika seseorang terlalu menggantungkan pada luasnya rahmat Allah, ampunan Allah yang berlimpah, dan melupakan bahwa Allah Maha Mengetahui lagi Maha pedih adzabNya, maka ia akan bermudah-mudahan (dalam berbuat maksiat). Ia akan merasa aman dari makar (istidraj dan adzab) Allah, dan barangsiapa yang jatuh kepada “merasa aman dari adzabNya”, maka ia akan menganggap remeh perbuatan dosa, sehingga jatuhlah ia kedalamnya.
15. Seseorang dapat terjatuh dalam “merasa aman dari adzab Allah”, ketika ia merasa takjub/UJUB dengan amal-amalnya, ia merasa telah banyak beramal shalih (padahal apa yang ia lakukan tersebut BELUM TENTU diterima Allah), atau ia merasa telah mengamalkan amalan penghapus dosa, sehingga ia merasa telah diampuni dosanya oleh Allah (padahal dia sendiri tidak bisa menjamin, apakah Allah telah mengampuninya atau tidak?!).
Sehingga ketika ia merasa telah beramal shalih, merasa telah suci dari dosa-dosa; maka kemudian bathinnya berkata: “ah.. nggak apa-apa sekali ini bermaksiat”
Yaa subhaanallaah!! Tidakkah ia tahu ORANG BERILMU adalah orang-orang YANG TAKUT KEPADA ALLAH?! Tidakkah ia sadar dengan anggapannya tersebut menunjukkan KEBODOHAN yang ada dalam dirinya?! Tidakkah ia tahu akan hadits diatas yang mana Allah menghapus kebaikan SESEORANG yang SANGAT BANYAK hanya karena ia senantiasa bermaksiat ketika mendapatkan kesempatan!? Tidakkah ia menyadari bisa saja Allah mencabut nyawanya ketika ia sedang bermaksiat kepadaNya?! Apakah ia menjamin kelak akan diberi kehidupan? Jika ia tidak bisa menjamin, mengapa ia menyengajakan untuk bermaksiat?! inilah bukti LEMAH-nya IIMAAN seseorang, dikarenakan LALAI-nya HATInya dari mengingat Allah, LALAI-nya hatinya dari mengingat kematian yang bisa datang kapan saja, LALAI-nya HATInya dari mengingat apa-apa yang akan terjadi setelah kematian!!
dari ‘Ibnu ‘Umar bahwa nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata dalam do’anya,
“Ya Allah, anugerahkan kepada kami rasa takut kepada-Mu yang membatasi antara kami dengan perbuatan maksiat kepadamu dan berikanlah (taufiq kepada kami, agar dapat melaksanakan) ketaatan kepada-Mu, yang dapat mengantarkan kami ke surga-Mu dan anugerahkan pula keyakinan (akan balasanMu di akhirat kelak) sehingga akan menyebabkan ringan bagi kami segala musibah di dunia ini.”
[HR. Tirmidzi (3502); An Nasaai dalam 'Amalul Yaum wal Lailah (402); Al Hakim (1/528); Al Baghawi (1374). Dihasankan At Tirmidzi dan al Albaaniy; dari muslim.or.id].
Semoga Allah memberikan taufiq kepada kita untuk senantiasa mengingatNya, dengan tidak meremehkan dosa-dosa (apalagi dosa besar), dan juga agar tidak bermudah-mudahan dalam perkara makruuh. Aaamiin
Semoga bermanfaat.
Sumber :
Larangan merasa aman dari adzab Allah
(kutipan huruf arab dihapus karena keterbatasan teknis program komputer)
kebunhidayah.wordpress.com
>>> Continue Reading Here

Kamis, 27 Desember 2012

Jangan melemah, karena engkau punya Allah yang Maha Kuat...



Fathanah berkisah...
Hari ini menjadi bingkai ke depan
Ambil mutiara di dalamnya
Mutiara hikmah sebagai bekal mengulang kembali atau tidak

Jangan melemah
Engkau punya Allah yang Maha Kuat
Tuk bersandar dari setiap keluh dan peluh

Lupakah engkau
Jika engkau hanya menyandarkan dirimu sendiri...
Jika engkau percaya untuk menghadapi sendiri
Dengan kekuatan maupun ketegaranmu
Maka tentu engkau akan melemah
Kekuatanmu rapuh
Serapuh ilmu yang engkau miliki


Sungguh engkau punya Allah
Rabb tempat bergantung
Segala kekuatan berasal darinya
Termasuk kekuatan yang ada pada dirimu

La haula walaa quwwata illa billah
Tidak ada daya upaya
Melainkan atas pertolongan dari Allah
















Kuatkan imanmu dengan tadabbur kalamNya
Minta pertolongan pada sabar bersama shalat
Cari hatimu berkumpul dengan orang shalih

Jangan kembali ke jalan yang dulu
Engkau telah bangkit
Jangan tidur lagi!
Bangkitlah pemuda !
Songsong masa depanmu
Dengan slogan generasi bertauhid! 


>>> Continue Reading Here

Senin, 24 Desember 2012

Terhindar Fitnah



Banyak yang tidak menyadari nikmat-nikmat Allah
Dan kini kutilik ke belakang
Satu nikmat yang begitu besar dari Allah
Diriku terhindar dari fitnah lawan jenis
Berkali jalan itu menuju ke peraduannya
Namun segala puji hanya bagiNya
Aku tertolong dari fitnah itu
Terbuai dalam lamunan panah cinta
Yang lahir dari nafsu
Kan berakhir dengan keburukan nafsu


 












Dunia betul banyak ranjaunya
Sekali lengah, dapat tergilas dengan kelenaannya
Hingar bingarnya memuncak hari ke hari
Betapa iman butuh dijaga
Tuk menyaring talbis iblis ke sekian kali

Pudarlah syahwat itu
Telah manis kupersembahkan cinta ini
Kepada yang berhaq

Biarlah yang Berhaq kucinta
Mengaturnya kelak
Akhir perjalanan cinta
Di dunia hingga ke akhirat

Aku merdeka
Dengan hati yang fokus
Lepas dari belenggu
Berbeda dengan kawanan disana
Dibudak oleh perasaan yang simpang siur
Tak menentu dan menggila
Karena cinta yang salah alamat

Semoga Allah tetap mencintaiku
dengan megistiqomahkanku
atas nikmat ini.
>>> Continue Reading Here

Senin, 03 Desember 2012

Sakit... So?


Sakit, sehat,
Apa yang kita risaukan?
Semuanya juga akan mati
Semua jua kan kembali menghadap Rabb
Pemilik tubuh manusia yang sakit dan tubuh yang sehat
Pengatur, Pemberi, dan yang Maha Menghendaki

Apa daya kita?
Apa kekuatan yang mumpuni
Sementara kekuatan datangnya dari Dzat yang Maha Kuat

Kala jasad itu kan diminta kembali
Apa hak menahan lengkap murka pdNya
Atas jiwa pinjaman dariNya

Semua yang berjiwa kan mati kawan!
Maka apa yang telah kita persiapkan
Membawa bekal yang selama ini kita kumpulkan
Dari sekolah, kampus, bimbingan, kantor
Hingga  dengungan ayat suci dibilik kamar
Dan sujud berderai air mata takut padaNya
Di akhir-akhir malam kita

Persiapkan!
Bekal mana yang kan enak rasanya di akhir
Bukan bekal yang buruk nan tak berguna tuk dilahap

Berapa  bekal yang telah kita pungut dari peluang-peluang
Setiap Allah hadiahkan hari yang spesial untuk kita
Yang telah dihentikan hadiahnya
Kepada yang di sudut sana melalui berita kematian

Wahai jiwa-jiwa yang tenang,
Kembalilah kepada Rabbmu yang menciptakan
Sekali lagi untuk yang telah mempersiapkan bekal baik
Tuk pulang...

Tak ada bedanya kawan!
Sakit, sehat, semua kan mati
Hanya waktu yang membedakan skenario hidup kita
Semua telah diatur olehNya

Serta bagaimana kita menyambutnya kawan!
Takut mati karena sedikitnya bekal perjalanan
sehingga tak lagi bisa beramal
Takut mati karena beratnya mempertanggungjawabkan semua
Dalam pengadilan yang seadil-adilnya
Takut mati karena beratnya meninggalkan
kemewahan dan kenikmatan dunia
Takut mati karena panjang angan-angan terhadap dunia
Dimana cerita kita menyambutnya?
Buatlah...

Apa yang kita khawatirkan
Mereka juga akan mati
Mereka akan menyusul kita
Atau kita yang menyusul mereka
Hanya Pencipta kita yang Mengetahuinya

Apa yang kita tangisi
Luapkan air mata mengalir deras karena takut padaNya
Itu yang kan menyelamatkan indahnya kedua bola mata
Dari hal menghabiskan sisa-sisa air mata ke peraduan sia-sia
Sekalipun menahan perihnya sakit kawan..
Menangislah karena takutkan Allah
kini sebelum terlambat...

>>> Continue Reading Here

"Kado Terindahku"















Segalanya diukur dengan materi
Inilah dunia hari ini

Tolak ukur kesuksesan ada pada materi
Sukses disandang dimata manusia
Kala harta dan tahta kuasa


















Mungkin kado terindahku bukan itu
Duhai kedua manusia yang mengasihiku
Yang terindah lah yang kan kupersembahkan
Yang berharga di sisi Allah
Walau tak sejalan dengan nilai di mata kebanyakan manusia


Cukup sanjunganmu  atas nilai yang fana
Ibarat pohon yang kan menguning dan gugur
Tinggallah seperti sampah berserakan
Tak menolong di hari akhir

Biarlah mereka dengan kebanggaannya
Tapi kudisini...Telah menemukan
Setelah pencarianku yang panjang sebagai penuntut ilmu
Dan harap istiqomah setia hingga akhir
Bahwa ilmu mengajarkan...hidup mulia adalah  dengan syariat

Kemuliaan yang didamba
Bukanlah dari banyaknya materi
Namun kemuliaan itu ada
Ketika kita mengenal siapa hakikat diri kita
Hakikat tujuan hidup kita
Hakikat tugas kita
Tiada lain sebagai hamba Allah yang tak pernah memiliki

Semoga kado istimewa dariku
Membawa kalian menuju jannah dan ridha Allah
Berjumpa dengan Rabbku dan Rabbmu
Setelah perjuangan dan pengorbanan
Menjadi saksi atasku.

Bantu aku menjadi shalih seperti yang lain...
Duhai yang diberi amanah dari Allah
Duhai yang diberi titipan dari Allah
Duhai yang dianugrahkan lahirnya hamba Allah ke dunia
Aku dan saudara-saudariku...
>>> Continue Reading Here

Minggu, 23 September 2012

KANDA



Kukenang kisah kita kanda
Berkumpul, bercengkrama dengan tulus kasih sayang
Kita kesana dan kemari
Bersua dalam taman yang diberkahi

Manisnya saat-saat itu
Ku beradu suka duka pada kanda-kanda
Iyah, kanda-lah yang kukenal saat itu
Dimana kanda-kandaku yang sesungguhnya ada jarak yang memisahkan
Kalianlah yang menjadi sosok kanda dalam pribadi hidupku
Disaat mereka berasyik masyuk dengan jua kehidupannya

Dan disinilah kumengenal hakikat kehidupan
Dari luar jendela baru kusadar akan sejatinya fokus dgn tujuan penciptaan...
Bukan di dalam sebagaimana orang di luar sana.

Kanda-kanda yang kucintai karena Allah
Cinta yang kulebihkan dari atas saudara pertalian rahim
Kini ku merindumu
Begitu juakah hatimu?

Kupinta pada Rabb
Mendekatkan hati kita dalam cahya iman
Dan berkumpul denganmu tak hanya di dunia ini
Tetapi jua di akhirat hidup abadi dalam janji yang penuh kenikmatan
Tentunya Surga Allah Ta'ala
Ku ingin kita berjanji bertemu disana.....

Trima kasih yang telah mewarnaiku dari luar jendela
Di luar merasakan hidup yang sesungguhnya kala itu.
Semoga Allah membalas dengan balasan yang sebaik-baiknya...
>>> Continue Reading Here

Syahid Copyright © 2009
Scrapbook Mania theme designed by Simply WP and Free Bingo
Converted by Blogger Template Template