Kamis, 14 Juni 2012

Ciri Dan Sifat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam [1]




Beliau tidak terlalu tinggi dan tidak pula pendek [2], 

tidak terlalu putih dan tidak pula coklat [3], 

rambutnya ti­dak keriting dan tidak pula lurus [4], 

saat meninggal tidak ada di kepalanya lebih dari dua puluh uban. 

Tubuhnya bagus, jarak antara kedua pundaknya jauh, 

memiliki rambut hingga kedua pundaknya: 

pada suatu waktu hingga dua daun telinganya, 

dan suatu waktu hingga separuh telinganya. 

Jenggotnya tebal, jari-jari tangannya besar[5], 

kepalanya besar, dan dua tulang persendiannya besar.

Wajahnya bulat, matanya sangat hitam, bulu matanya panjang, 

Ujung matanya merah, berbulu lembut dari dada hingga pusar.

Jika berjalan, beliau berjalan dengan kuat. 

Wajah­nya berbinar-binar laksana bulan purnama, 

seakan-akan wajahnya adalah bulan. 

Suaranya merdu, pipinya lunak, mulutnya lebar [6], perut dan dadanya sejajar.

Kedua pundak, kedua hasta dan bagian atas dada ber­bulu, 

pergelangan tangannya panjang, telapak tangannya lebar, 

lubang kedua matanya panjang, kedua tumitnya memiliki sedikit daging, 

di antara kedua pundaknya ter­dapat tanda kenabian seperti kancing rumah pengantin,

atau seperti telur merpati.[7]

Jika berjalan, seakan-akan tanah bumi dilipat un­tuknya. 

Saat menyusulnya, mereka mendapatinya tidak menaruh perhatian. 

Beliau mengurai rambut kepalanya (pada keningnya),

lalu memisahnya menjadi dua bagian.[8] 

Beliau menyisir rambutnya, menyisir jenggotnya, 

dan bercelak dengan celak itsmid setiap malam, 

pada tiap-tiap mata tiga sapuan saat tidur.

Pakaian yang paling beliau sukai adalah gamis, 

ber­warna putih, dan hibarah, yaitu sejenis kain tebal ber­warna kemerah-merahan. 

Lengan baju Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamhingga pergelangan.[9]

Pada satu waktu, beliau memakai pakaian merah, sarung dan selendang. 

Pada waktu yang lain, beliau memakai dua pakaian (hijau). 

Pada waktu yang lain, beliau memakai jubah yang sempit lengan tangannya. 

Pada waktu yang lain, beliau memakai peci. 

Pada waktu yang lain, beliau memakai serban hitam 

dan mengulur­kan kedua ujungnya di antara kedua pundaknya. 

Pada waktu yang lain, memakai pakaian hitam terbuat dari bulu, yakni kisa’. 

Beliau memakai cincin[10], sepatu dan sandal.


Foot Note:

[1] Mengenai masalah ini, lihat asy-Syamaa-il al-Muhammadiyyah karya at-Tirmidzi, 

yang dirangkum oleh Syaikh al-Albani.

[2] Yakni, perawakannya ideal.

[3] Yakni, beliau tidak terlalu putih dan tidak pula coklat, 

tetapi putihnya kecoklatan yang dihiasi dengan warna kemerahan.

[4] Yakni, rambut beliau tidak keriting dan tidak pula sangat lu­rus dan lembut, 

tetapi pertengahan di antara itu, dan inilah ke­sempurnaan.

[5] adalah terpuji bagi laki-laki karena ia sangat keras geng­gamannya, 

tapi dicela bagi wanita, karena yang lebih pantas bagi wanita adalah lembut.

Lihat an-Nihaayah (II/444).

[6] Ini adalah sifat kesempurnaan pada kaum kaki-laki.

[7] Khatam an-Nubuwwah (stempel kenabian) ialah tanda menonjol, 

yakni daging yang menonjol yang terletak di antara kedua pundak 

seukuran telur burung merpati dan di atasnya ter­dapat bulu-bulu yang berhimpun.

[8] Yakni, menjadikannya menjadi dua bagian pada kedua sisi kepalanya, 

dan tidak membiarkan sedikit pun darinya pada dahinya.

[9] HR. Abu Dawud (4027), dan at-Tirmidzi (1765). 

Dalam sanad­nya terdapat Syahr bin Hausyab, seorang perawi dhaif. 

Ar­rusgh adalah persendian antara telapak tangan dengan lengan. 

Lihat Mukhtashar asy-Syamaa-il, karya al-Albani (hal. 46).

[10] Cincin beliau terbuat dari perak yang beliau sematkan di jari manis kanannya, dan terkadang beliau memakainya di ta­ngan kiri. 

Lihat Shahiih al-Bukhari (5877), dan Shahiih Muslim (2094).


Bersambung insyaallah...

Sumber: Buku “Ringkasan Kehidupan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam”, 

Imam an Nawawi, Ta’liq & Takhrij: Khalid bin Abdurrahman bin Hamd Asy-Syayi, 

Pustaka Ibnu Umar, Cet.1

Artikel: www.kisahislam.net

 


>>> Continue Reading Here

Sabtu, 02 Juni 2012

BERBAGAI CARA MENGHITUNG AKAR KUADRAT




Mari kita coba pelajari berbagai macam cara menghitung akar kuadrat.
1.       Cara coba-coba. Ini adalah cara paling umum untuk menyelesaikan hitungan akar kuadrat. Cara ini sangat cocok bagi anak-anak, kita, yang telah lancar menghitung kuadrat atau perkalian.
Misal kita akan menghitung akar (kuadrat) dari 64.
Maka kita coba 5×5 = 25 (terlalu kecil).
Coba 9×9 = 81 (terlalu besar).
Coba 7×7 = 49 (terlalu kecil).
Coba 8×8 = 64 (betul).
Jadi kita peroleh akar 64 adalah 8.
2.      Cara faktorisasi. Cara ini cukup menarik dan taktis.
Misal, berpakah akar dari 64?
Maka 64 = 2×32 = 2x2x16 = 4×16
Maka
akar 64 = akar 4 x akar 16
= 2 x 4
= 8 (Selesai).
Cara faktorisasi ini sangat berguna sampai pelajaran matematika tingkat tinggi. Ketika duduk di bangku SMA, kita sering menggunakan cara faktorisasi. Ketika kuliah kalkulus, kita juga sering menggunakan cara faktorisasi.
Misal, berapa akar dari 72?
Maka
72 = 9×8 = 9x4x2
Jadi akar 72 = 3x2x akar 2
= 6akar2 = 6√2.
3.      Cara pendekatan. Cara ini adalah variasi dan lanjutan dari cara coba-coba. Setelah berlatih beberapa kali, kita akan sangat mahir dengan cara ini. Cara pendekatan ini sangat dahsyat untuk menghitung akar yang nilainya cukup besar.
Misal, berapakah akar dari 1681?
Pendekatan paling masuk akal adalah 40×40 = 1600.
Karena satuan dari 1681 adalah 1 maka satuan dari akarnya tentu 1 atau 9. Dalam hal ini kita memilh 1. (Mengapa?).
Jadi kita peroleh jawaban 40+1 = 41
Misal, berapakah akar dari 3364?
Pendekatan paling masuk akal adalah 50×50 = 2500.
(sedangkan 60×60 = 3600, terlalu besar).
Karena satuan dari 3364 adalah 4 maka satuan dari akarnya adalah 2 atau 8. Dalam hal ini kita memilih 8. (Mengapa?)
Jadi kita peroleh jawaban 50+8 = 58.
4.   Cara Lain...??? Silakan tuliskan pada kolom kommentar..., biar semakin indah kita berbagi!!!
>>> Continue Reading Here

MENGHINDARI KESALAHAN DALAM BELAJAR MATEMATIKA




Belajar matematika dengan cara membaca dan menghafal tidaklah cukup. Matematika bukan ilmu hafalan. Kunci untuk berhasil dalam mengerjakan soal matematika adalah dengan banyak latihan. Latihan dan terus latihan. Ketika Anda sudah banyak berlatih, secara otomatis rumus-rumus juga akan masuk ke otak Anda. Sehingga Anda tidak perlu menghafal rumus demi rumus. Namun, kadang-kadang kita juga harus tetap bisa menghafal supaya dapat mengerjakan dengan cepat.
Belajar Matematika Belajar Menghafal ?
Tidak usah khawatir karena Anda tidak bisa menghafal. Logikanya begini. Anda pasti hafal diluar kepala bahwa 5 x 5 =25. Padahal itu Anda pelajari beberapa tahun yang lalu. Mengapa Anda masih ingat ? Padahal Anda tidak menghafal terus menerus. Hampir sama ketika Anda mempelajari rumus-rumus trigonometri atau rumus-rumus integral. Ketika  Anda pertama kali mempelajari rumus-rumus pasti kelihatan sulit. Tetapi ketika Anda membiasakan diri untuk berlatih dan terus berlatih semakin lama Anda tidak perlu menghafal karena memori otak Anda sudah menyimpan rumus-rumus tersebut ketika Anda berlatih dan menggunakannya.
Nah, pada posting kali ini saya akan memberikan tujuh kesalahan yang paling sering dilakukan siswa ketika mengerjakan soal matematika terutama ketika menghadapi ujian. Saya pilih siswa karena sebentar lagi siswa-siswi kelas XII akan menghadapi ujian nasional yang secara langsung menentukan masa depan mereka. Terlebih matematika masih dijadikan momok pelajaran yang menakutkan.
Dengan mengetahui kesalahan-kesalahan ini diharapkan para siswa semakin tahu bagaimana seharusnya belajar matematika. Sehingga para siswa merasa asyik dan menikmati ketika belajar matematika. Dan tentu saja  kesalahan-kesalahan ini tidak akan dilakukan. Berikut tujuh kesalahan yang dilakukan para siswa ketika belajar matematika atau ketika mau menghadapi ujian matematika.
1. Tidak Belajar Sama Sekali dan Terlalu Percaya Diri
Beberapa siswa sering merasa yakin dengan latihan-latihan yang telah dilakukan sebelumnya. Sehingga pada waktu mendekati ujian mereka tidak belajar sama seklai. Ini merupakan kesalahan fatal yang sering dilakukan siswa.  Meskipun Anda cerdas dan pandai, namun alangkah baiknya jika Anda mempersiapkan diri sebaik mungkin, karena segala sesuatu bisa terjadi pada waktu ujian. Ingat kajinan juga berpengaruh terhadap keberhasilan Anda. SUKSES = RAJIN + CERDAS.
Selain itu, jika siswa tidak belajar sama sekali, maka segala cara kemudian ditempuh, misalnya: membuat contekan, mengandalkan teman sebelahnya atau mengisi jawaban apa adanya alias “ngawur”. Nah, kalau sudah begini sangat fatal. Ingat jika Anda ketahuna mencontek atau bekerja sama banyak kerugian yang akan Anda alami. Lebih baik persiapan belajar dan mengerjakan sesuai dengan kemampuan Anda.
2. Belajar Matematika dengan Menghafal dan Tanpa Latihan
Seperti sudah saya jelaskan di atas, bahwa belajar matematika bukan belajar menghafal. Salah jika Anda belajar matematika tanpa latihan, karena sebenarnya banyak hal yang akan Anda temukan ketika latihan. Porsi untuk membaca dan latihan menurut saya adalah 20 % untuk membaca konsep dan 80 % untuk latihan. Jangan terlalu banyak membaca konsep karen tidak akan membuat mahir atau terampil mengerjakan soal-soal matematika. Ingat soal-soal matematika bukanlah konsep semata, tetapi lebih banyak soal yang berkaitan ketrampilan Anda menggunakan rumus, logika dan menyimpulkan sesuatu.
3. Tidak Teliti
Sayang benar jika Anda bisa mengerjakan sebuah soal matematika dengan lengkap, tetapi Anda merasa kecewa karena setelah Anda keluar dari ruang ujian Anda baru menyadari bahwa jawaban Anda salah pada baris terakhir saja. Anda sudah mengerjakan dengan susah payah, tetapi karena ketidaktelitian membuat jawaban Anda salah. Misalnya: 1+(-10) menjadi 9, padahal hanya kurang tanda (-) saja, betapa itu sangat mengecewakan jika itu terjadi pada Anda.
Meskipun Anda pintar dan melakukan banyak persiapan, namun jika Anda tidak teliti juga akan percuma. Terlebih jika semua soal adalah soal pilihan ganda, yang ditentukan dengan jawaban benar atau salah saja. Fatal akibatnya jika Anda tidak teliti. Apakah Anda pernah mengalami seperti hal ini ?
4. Terburu-buru
Banyak siswa yang sering melakukan kesalahan ini. Biasanya kesalahan ini dilakukan karena siswa ingin segera menyelesaiakan soal matematika dengan cepat dan ingin mendapat nilai maksimal. Namun karena terburu-buru banyak kesalahan-kesalahan sepele yang dilakukan. Misalnya ketika mengerjakan soal urain, ada yang salah, kemudian dihapus/di tipex, sambil menunggu kemudian mengerjakan soal yang lain. Karena terburu-buru, maka jawaban yang ingin diperbaiki menjadi kosong dan tidak jadi diperbaiki. Fatal bukan ?
5. Tidak Memperhatikan Petunjuk Soal dan Lupa Menulis Identitas Diri
Ketika Anda mau mengerjakan soal-soal matematika, sebaiknya Anda membaca terlebih dahulu petunjuk soalnya. Siapa tahu ada aturan atau petunjuk-petunjuk yang baru atau tidak seperti petunjuk sebelumnya. Misalnya skor setipa nomor, skornya 1 atau 4, jika salah -1 dan lain-lainnya.
6. Mengerjakan Tidak dengan Prioritas dan Tanpa Strategi
Kecenderungan siswa dalam mengerjakan soal matematika biasanya cenderung mengerjakan dari nomor 1 dan tidak memperhatikan soal-soal yang lain. Akibatnya jika nomor 1 kebetulan soal yang sulit, maka pada bagian awal Anda sudah membuat kesalahan. Selain itu Anda akan cenderung emosi semisal Anda tidak memperoleh jawabannya. Ada tipe  pembuat soal yang seperti ini, yang digunakan untuk menguji psikologis siswa. Sebaiknya Anda hati-hati dalam menghadapi tipe-tipe soal yang sulit dan ditaruh di bagian awal soal.
Sebaiknya, Anda lihat terlebih dahulu semua soal, jumlah halaman, lengkap atau tidak, prioritaskan soal-soal yang mudah menurut Anda, baru kemudian mengerjakan soal-soal yang sulit. Setelah itu Anda hitung kemungkinan Anda bia mengerjakan berapa soal. Sudah tuntas belum ?
7. Mengerjakan dengan Coba-coba dan Menghafalkan Rumus Praktis
Memang tidak salah jika Anda mengerjakan soal dengan coba-coba. Beberapa soal memang lebih cepat jika dikerjakan dengan coba-coba terutama untuk soal pilihan ganda. Misalnya soal, program linear, soal sistem persamaan linear dan lain-lain. Tetapi saran saya, sebaiknya Anda juga harus hati-hati dengan tipe-tipe soal seperti ini. Kadang-kadang juga ada soal yang bisa dikerjakan dengan coba-coba tetapi akhirnya menjebak Anda. Selain itu, ada soal dengan tipe ini yang dikerjakan lebih lama daripada dengan langkah-langkah biasa.
Saya tidak melarang Anda menggunakan rumus praktis atau cara cepat. Memang ada tipe soal yang dapat dikerjakan dengan rumus praktis. Tetapi perhatikan bahwa rumus prakits tidak berlaku untuk semua soal, hanya untuk soal dengan tipe tertentu saja.
Kiranya sudah terlalu banyak saya menuliskan kesalahan-kesalahan yang sering dilakukan ketika mengerjakan soal terutama soal matematika dan beberapa saran untuk Anda. Saran saya dalam mengerjakan soal matematika sebaiknya Anda harus:
1. Percaya Diri
2. Mengerjakan dengan Strategi
3. Persiapan Diri dengan Banyak Berlatih
Mungkin Anda memiliki kesalahan lain dan saran-saran lain silahkan Anda tuliskan pada kotak komentar di bawah ini. Tujuh di atas bukan angka keramat, hanya untuk mempermudah mengingat saja dan jika ada tambahan bisa menjadi delapan atau sembilan dan seterusnya.

>>> Continue Reading Here

Syahid Copyright © 2009
Scrapbook Mania theme designed by Simply WP and Free Bingo
Converted by Blogger Template Template