Sabtu, 17 Januari 2015

Urgensi Mempelajari Bahasa Arab

بسم الله الرحمن الرحيم

URGENSI MEMPELAJARI BAHASA ARAB

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, kepada keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari Kiamat, amma ba’du:
Berikut pembahasan tentang urgensi mempelajari bahasa Arab, semoga Allah menjadikan penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, Allahumma amin.
Perintah mempelajari bahasa Arab
Kita mengetahui, bahwa Al Qur'an diturunkan dalam bahasa Arab. Allah Subhaanahu wa Ta'ala berfirman,
وَهَـذَا لِسَانٌ عَرَبِيٌّ مُّبِينٌ
"Sedang Al Quran adalah dalam bahasa Arab yang terang." (QS. An Nahl: 103)
Bagaimana seseorang dapat memahami Al Qur’an jika ia tidak berbahasa Arab? Dari sini kita mengetahui, bahwa mempelajari bahasa Arab adalah masyru' (disyariatkan). Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, "Sesungguhnya bahasa Arab termasuk bagian agama, mengetahuinya adalah fardhu dan wajib, karena memahami Al Qur'an dan As Sunnah wajib, dan keduanya tidak dapat dipahami kecuali dengan bahasa Arab. Sedangkan suatu kewajiban yang tidak sempurna kecuali dengannya, maka sesuatu itu menjadi wajib." (Al Fauzan, Abdurrahman, 1424 H: Ba, Mukadimah).
Umar bin Khaththab            berkata,
تَعَلَّمُوا الْعَرَبِيَّةَ وَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ
“Pelajarilah bahasa Arab dan dalamilah ilmu agama.” (Diriwayatkan oleh Baihaqi dalam Syu’abul Iman)
Perhatian Kaum Salaf Terhadap Bahasa Arab
Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu pernah berkata, “Semoga Allah merahmati orang yang meluruskan lisannya (dengan belajar bahasa Arab).”
Menantu Imam Syafi’i berkata, “Imam Syafi’i mempelajari bahasa Arab dan sejarah-sejarah manusia selama dua puluh tahun, lalu kami berkata kepadanya, “Apa maksudmu melakukan hal ini?” Ia menjawab, “Tidak ada maksudku melakukan hal itu kecuali untuk membantu memahami fiqh.” (Al Faqih wal Mutafaqqih karya Al Khathib Al Baghdadi 2/41)
Imam Syafi’i telah mencapai puncak dalam pengusaan bahasa Arab, sehingga dijuluki sebagai orang Quraisy yang paling fasih pada masanya. Beliau termasuk orang yang menjadi rujukan bahasa Arab.
Ibnul Qayyim juga dikenal memiliki perhatian yang kuat terhadap bahasa Arab. Beliau belajar kepada Ibnul Fathi Al Ba’li kitab Al Mulakhkhash karya Abul Baqa’, Al JurjaniyyahAlfiyyah Ibnu MalikAl Kafiyah Asy Syafiyah danAt Tashil. Beliau juga belajar kepada Ali bin Majd At Tusi.
Ulama lain yang terkenal memiliki perhatian besar terhadap bahasa Arab adalah Imam Syaukani. Ulama ini menimba ilmu dari tiga ulama sekaligus, yaitu Sayyid Ismail bin Al Hasan, Al Allamah Abdullah bin Ismail An Nahmi, dan Allamah Qasim bin Muhammad Al Khaulani.
Standar Mempelajari Bahasa Arab
Menurut Az Zain (Ahmad, Mahmud 1430 H: 21), bahwa yang dibutuhkan setiap muslim dan yang wajib dipelajarinya dari bahasa Arab adalah yang dengannya dapat ditunaikan kewajiban, dan tidak diterima amalan jika tidak menggunakan bahasa Arab, seperti surat Al Fatihah dan Takbiratul Ihram. Adapun yang dibutuhkan untuk berijtihad, yakni menggali Al Qur’an, As Sunnah, dan semua dalil syar’i untuk menggali hukum daripadanya secara langsung, maka dalam hal ini butuh rincian, karena sebagian orang salah memahami maksud ulama, mereka mengira bahwa bahasa Arab yang dipelajari di sekolah-sekolah umum cukup bagi mereka untuk memahami dalil-dalil Al Qur’an dan As Sunnah. semoga saja pada pendapat ulama yang akan disebutkan dapat membuka hakikat yang sebenarnya dan menyingkirkan salah paham.
Muwaffaquddin Ibnu Qudamah berkata dalam Raudhatun Nazhir (2/452), “Syarat ijtihad adalah mengetahui posisi-posisi hukum yang memang membuahkan, yaitu ushul yang telah kami rincikan; Al Qur’an, As Sunnah, Ijma’, Istish-habul hal, dan qiyas yang mengikutinya.”
Ibnu Qudamah (3/256) juga berkata, “Ia (Mujtahid) butuh mengetahui dalil dan syaratnya, mengetahui bahasa dan Nahwu yang dengannya dapat dipahami pembicaraan orang-orang Arab, di mana dengannya dapat dibedakan antara perkataan yang sharih, zhahir, dan mujmalnya, hakikat dan majaznya, umum dan khususnya, muhkam dan mutasyabihatnya, mutlak dan muqayyadnya, nash dan artinya, lahn dan mafhumnya, dan tidak wajib baginya selain ukuran yang dengannya dia dapat memahami Al Qur’an dan As Sunnah, di mana dengannya ia dapat menguasai letak-letak pembicaraan, dan mengetahui rahasia dibalik itu.” (Dikutip dari bukuAhammiyyatul Lughatil Arabiyyah karya Mahmud Ahmad Az Zain hal. 22).
Imam Syaukani dalam Irsyadul Fuhul hal. 373 berkata, “Sesungguhnya yang mampu mengetahui makna, susunannya yang lebih khusus, dan kandungannya berupa sisi-sisi rahasianya adalah orang yang mengetahui ilmu Nahwu, Sharf, Ma’ani, dan Bayan, sehingga dalam setiap bidang ilmu ia mempunyai kemampuan dan sikap yang tepat ketika ada dalil yang datang kepadanya. Ia melihat dalil itu dengan pandangan yang benar dan dapat menggali hukum-hukum daripadanya secara kuat.” (Dikutip dari buku Ahammiyyatul Lughatil Arabiyyah karya Mahmud Ahmad Az Zain hal. 24).
Dari penjelasan di atas, kita dapat menyimpulkan, bahwa standar mempelajari bahasa Arab itu dilihat kepada pelakunya. Apabila ia sebagai seorang yang awam, maka cukup baginya mempelajari bahasa Arab yang dengannya dapat ditunaikan kewajiban, adapun bagi penuntut ilmu dan mujtahid, maka harus mempelajari lebih dari itu. Dan bahwa bahasa Arab yang dibutuhkan mujtahid bukan hanya bahasa Arab yang diajarkan di sekolah-sekolah, tetapi seperti yang disampaikan Ibnu Qudamah di atas.
Urgensi Bahasa Arab 
1.     Bahasa Arab termasuk bagian agama.
Ibadah seperti shalat, doa, membawa Al Qur'an, dan syiar-syiar Islam yang lain tidak dapat dilaksanakan dan dipamahi serta ditadabburi kecuali dengan bahasa Arab.
2.     Bahasa Arab adalah bahasa Al Qur’an dan As Sunnah.
Allah Azza wa Jalla berfirman,
إِنَّا جَعَلْنَاهُ قُرْآناً عَرَبِيّاً لَّعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ
 “Sesungguhnya Kami menjadikan Al Quran dalam bahasa Arab agar kamu memahami(nya).” (QS. Az Zukhruf: 3)
Hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam  tertulis dengan bahasa Arab. Oleh karena itu, penguasaan bahasa Arab menjadi pintu gerbang memahaminya.
3.     Mengetahui bahasa Arab dapat menjaga seseorang dari terjatuh ke dalam syubhat dan bid'ah.
Imam Syafi'i rahimahullah berkata, "Orang-orang tidaklah jahil dan berselisih melainkan karena mereka meninggalkan bahasa Arab dan cenderung kepada bahasa Aristhoteles."
Imam As Suyuthi rahimahullah berkata, "Saya telah mendapatkan kaum salaf sebelum Imam Syafi'i, mereka mengisyaratkan seperti yang Beliau isyaratkan, yaitu bahwa sebab terjadinya bid'ah adalah karena tidak tahu bahasa Arab."
4.     Bahasa Arab adalah syiar Islam dan kaum muslimin, dan bahasa termasuk syiar besar untuk membedakan yang satu dengan yang lain sebagaimana yang dikatakan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. (Al Fauzan, Abdurrahman, 1424 H: Ta', Mukadimah).
5.     Seseorang tidak dapat memahami Al Qur’an dan As Sunnah kecuali dengan bahasa Arab.
Ahmad Al Barra’ berkata, “Sesungguhnya dua dasar agama ini adalah Al Qur’an dan As Sunnah, keduanya berbahasa Arab, dan tidak mungkin memahami keduanya, mengetahui rahasianya, dan menggali hukum-hukum yang ada dalam keduanya bagi orang yang tidak menguasai bahasa yang berkah ini.”
6.     Seseorang tidak dapat memahami fiqh terhadap syariat Islam kecuali dengan bahasa Arab.
7.     Mampu berbahasa Arab adalah syarat menafsirkan Al Qur’an.
Imam Syafi’i berkata, “Tidak bisa menerangkan kemujmalan Al Qur’an orang yang tidak mengetahui luasnya bahasa Arab, banyak sisinya, luas maknanya dan menyebarnya. Tetapi siapa yang mengetahuinya, maka akan hilang syubhat-syubhat darinya yang menimpa orang yang tidak mengetahui bahasanya.” (Ar Risalah hal. 50, dikutip dari buku Ahammiyatul Lughatil Arabiyyah oleh Mahmud Az Zain hal. 12)
Menurut Az Zain (Ahmad, Mahmud, 1430: 6), karena mengetahui bahasa Arab merupakan syarat yang Allah tetapkan untuk memahami Al Qur’an ini, maka para ulama menetapkan, bahwa bahasa Arab adalah salah satu syarat berijtihad dalam menafsirkan Al Qur’an dan As Sunnah.
Ibnu Katsir dalam kitab Tafsirnya (1/51) saat berbicara tentang tafsir para tabi’in berkata, “Apabila mereka sepakat terhadap sesuatu, maka para mufassir tidak meragukan bahwa hal itu adalah hujjah. Jika mereka berselisih, maka pendapat sebagian mereka tidaklah menjadi hujjah bagi yang lain atau bagi generasi setelah mereka. Dan dalam hal ini dirujuk kepada bahasa Al Qur’an, atau As Sunnah, atau keumuman bahasa Al Qur’an.” (Dikutip dari buku Ahammiyatul Lughatil Arabiyyah oleh Mahmud Az Zain hal. 17)
Keistimewaan Bahasa Arab
Bahasa Arab memiliki banyak keistimewaan, di antaranya:
1.  Bahasa Arab adalah bahasa Al Quran dan As Sunnah.
2. Susunan kata bahasa Arab tidak banyak.
Kebanyakan terdiri dari tiga huruf saja. Ini akan mempermudah pemahaman dan pengucapannya.
3. Bahasa Arab kaya kosakata dan makna.
Kosa kata dalam bahasa Arab mencakup semua bidang dan lapangan. Dalam bahasa Arab juga, satu kata saja bisa menunjukkan kepada beberapa makna. Contoh kata ‘Ain yang bisa berarti mata, diri, bayaran secara tunai, mata air, ketua kaum, huruf ‘ain, dan sebagainya. Bahkan untuk suatu benda atau hewan dapat diungkapkan dengan beberapa kata. Contoh:
خَيْلٌ = Sekumpulan kuda
فَرَسٌ = Seekor kuda
حِصَانٌ = Kuda jantan
حَجَرٌ = Kuda betina
مَهْرٌ = Anak kuda jantan
مَهْرَةٌ = Anak kuda betina
Dst.
4. Memiliki kaidah i’rab yang sempurna,
Contohnya perkataan Zaid, bisa dibaca zaidun, zaidan, dan zaidin, di mana keadaan kata itu bisa sebagai subjek atau objek. Perhatikanlah contohnya di bawah ini:
جَاءَ زَيْدٌ   = Zaid telah datang
رَأَيْتُ زَيْدًا   = Aku melihat Zaid
مَرَرْتُ بِزَيْدٍ   = Aku melewati zaid
5. Memiliki sistem morfologi (bentuk kata) yang unik,
Contoh kata dasar dharaba bisa dipecahkan kepada beberapa bentuk sehingga memunculkan arti baru, seperti :
ضَرَبَيَضْرِبُضَرْبًاضَارِبٌمَضْرُوْبٌ  اِضْرِبْ-
لَا تَضْرِبْمَضْرِبٌ - مَضْرِبٌ - مِضْرَبٌ  ضُرِبَ-يُضْرَبُ
6. Memiliki keunggulan dan ringkas (i’jaz),
Bahasa Arab banyak menggunakan kalimat yang singkat dalam menunjukkan kepada suatu maksud, misalnya dengan membuang sebuah kata (hadzf). Contohnya membuang mudhaf, yaitu ahli dan menyebutkan mudhaf ilaih, seperti dalam firman Allah Ta’ala,
وَاسْأَلِ الْقَرْيَةَ الَّتِي كُنَّا فِيهَا وَالْعِيْرَ الَّتِي أَقْبَلْنَا فِيهَا وَإِنَّا لَصَادِقُونَ
 “Dan tanyalah (penduduk) negeri yang kami berada di situ, dan kafilah yang Kami datang bersamanya, dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang benar." (QS. Yusuf: 82)
7. Memiliki Makhraj atau tempat keluar huruf.
Setiap huruf hijaiyyah memiliki tempat keluar masing-masing yang terbagi secara merata dari pangkal tenggorokan hingga ujung bibir. Seperti huruf hamzah yang keluar dari pangkal tenggorokan. Demikian juga Huruf ba’ yang memiliki makhraj atau tempat keluar dari dua bibir.
Wallahu a’lam wa shallallahu ‘alaa Nabiyyinaa Muhammad wa alaa aalihi wa shahbihi wa sallam.
Marwan bin Musa

Maraji’: Maktabah Syamilah versi 3.45, Al 'Arabiyyah Baina Yadaik  (Abdurrahman Al Fauzan, dkk.), Ahammiyyatul Lughatil Arabiyyah fii Fahmil Qur’ani was Sunnah (Mahmud Ahmad  Az Zain),http://almanhaj.or.idhttp://www.alukah.net dan lain-lain.
http://wawasankeislaman.blogspot.com/
>>> Continue Reading Here

Kamis, 20 November 2014

Betapa Tingginya Allah Menilai Sebuah Waktu…



Waktu adalah usia kehidupan kita dan tempat kita berada, bernaung, mengambil dan memberi manfaat. Betapa tingginya nilai sebuah waktu sampai Allah bersumpah demi waktu dalam berbagai firman-Nya.

Waktu adalah nikmat yang cukup mendasar dan mahal, namun kebanyakan dari kita melalaikannya.

Allah berfirman:
“Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan sebagai rizki untukmu, dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan pula sungai-sungai.
Dan Dia menundukkan (pula) matahari dan bulan yang terus beredar, dan telah menundukkan bagimu malam dan siang.  Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah kamu dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya manusia itu sangat zalim dan ingkar (akan nikmat Allah).”
(QS Ibrahim: 32-34).

Saudaraku.  Nikmat malam dan siang adalah bagian dari waktu yang sedang kita perbincangkan. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
“Dan Dia telah menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang itu ditundukkan untukmu dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahami(nya).” (QS. An-Nahl :12).

Pada ayat yang mulia ini Allah mengisyaratkan, bahwa nikmat tesebut mempunyai arti yang besar bagi orang-orang yang berakal dan mau mengambil pelajaran.
Allah bangga sebagai pemilik waktu dan tempat serta apa yang di dalamnya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
“Dan kepunyaan Allah-lah segala yang ada pada malam dan siang hari. Dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-An’am :13).

Demikianlah saudaraku betapa besarnya nikmat waktu yang Allah berikan pada kita. Sehingga dalam salah satu firman-Nya Allah subhanahu wa ta’ala mengecam perilaku orang-orang kafir yang menyia-nyiakan umur, berlomba-lomba dalam kekafiran, dan tidak mau berhenti dari kekafirannya, padahal mereka mempunyai banyak kesempatan dan Allah telah memberi mereka waktu yang luang dan umur yang panjang.

Allah subhanahu wa ta’ala berfiman:
“Dan bukankah Kami telah memanjangkan umurmu dalam masa yang panjang yang mana cukup untuk berfikir bagi orang-orang yang mau berfikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan? Maka rasakanlah azab kami dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolong pun.” (QS Al-Fathir:37).

Ibnu Katsir rahimahullah dalam menafsirkan ayat di atas berkata: “Bukankah anda telah hidup di dunia dengan umur yang panjang? Kalau saja anda mencari kebenaran niscaya anda akan dapatkan kebenaran itu semasa anda hidup.”
Alangkah indahnya perkataan Imam Qatadah: “Ketahuilah bahwa umur panjang itu akan menjadi saksi, maka berlindunglah kepada Allah agar umur anda yang panjang itu tidak menyebabkan anda tercela.”

Begitulah Allah memberikan umur panjang agar kita berfikir dan penuh perhatian, di samping sebagai kesempatan untuk beriman dan beramal shaleh.
Selain ayat yang kusebutkan di atas banyak lagi ayat-ayat lain yang mengingatkan kita akan besarnya arti waktu. Coba engkau buka Al-Qur’an, niscaya kita dapatkan betapa banyak Allah bersumpah dengan waktu dan bagian-bagiannya.

Allah bersumpah dengan indahnya tentang waktu, malam, siang, fajar, dhuhur, ashar, antara lain dalam firmanNya:

“Demi malam apabila menutupi (cahaya siang), dan siang apabila terang-benderang.” (QS. Al-Lail 1-2).

“Demi malam ketika telah berlalu dan subuh apabila mulai terang.” (QS. Al-Muddatsir: 33-34).

“Demi malam apabila meninggalkan gelapnya, dan demi subuh apabila fajar menyingsing.” (QS. At-Takwir 17-18).

“Maka sesungguhnya Aku bersumpah dengan cahaya merah di waktu senja.”(QS. Al-Insyiqaaq:16-17).

Demi fajar dan malam yang sepuluh.”(QS. Al-Fajr:1-2).

“Demi waktu matahari naik sepenggalahan, dan demi malam apabila telah sunyi.” (QS. Adh-Dhuha: 1-2).

“Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian.” (QS. Al-Ashr: 1-2).

Coba kau perhatikan sumpah Allah dalam ayat-ayat di atas, maka akan kau dapatkan bahwa sumpah-sumpah tersebut berada dalam posisi yang serius.

Saudaraku.  Demikianlah Allah subhanahu wa ta’ala bersumpah dengan waktu karena dalam waktu terdapat beberapa keajaiban, terdapat kesenangan dan kesusahan, kesehatan dan rasa sakit, serta kekayaan dan kemiskinan. Juga karena berharganya usia ini tak bisa dinilai dengan apapun.

Saudaraku.  Jika kita menyia-nyiakan waktu ribuan tahun untuk sesuatu yang tak ada artinya, kemudian bertaubat, niscaya kau akan masuk surga untuk selama-lamanya. Dengan demikian waktu yang sangat bernilai dalam hidup anda adalah pada detik-detik terakhir tadi. Oleh karena itu Allah subhanahu wa ta’ala bersumpah dengan waktu untuk mengingatkan bahwa pergantian siang dan malam banyak disia-siakan orang.

Adapun keterangan dari As-Sunnah tentang nilai waktu tampak lebih jelas dan gamblang. Diriwayatkan oleh Bukhari, Tirmidzi, dan Ibnu Majah dari Ibnu ‘Abbas, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:“Dua kenikmatan yang banyak dilalaikan orang adalah kesehatan dan kesempatan.”

 Saudaraku.  Waktu adalah nikmat yang agung dan pemberian yang besar, hanya saja ini tidak disadari dan dimanfaatkan, kecuali oleh orang-orang yang mendapatkan taufiq dari Allah. Sebagaimana yang tersirat oleh hadits di atas, waktu banyak dilalaikan orang, yang berarti sedikit sekali orang yang tidak lalai.

Cobalah kau renungkan wahai saudaraku.  Setiap desah nafasmu adalah waktumu yang kau bawa sekehendak hatimu. Apakah kau bawa waktumu dalam manisnya ketaatan pada-Nya. Atau kau giring kepada jurang kenistaan dan kemaksiatan pada-Nya, tanyalah dirimu?.

Saudaraku.  Menyia-nyiakan waktu itu lebih berbahaya dari kematian, karena menyia-nyiakan waktu dapat memutus kita dari Allah, sedangkan kematian memutus dunia dan penghuninya. Namun yang jelas kita sekarang ini berada dalam perjalanan menuju keharibaan-Nya dan kita tidak tahu muara dari perjalanan kita ini, Dialah yang mengetahui akhir dari perjalanan hidup kita.

Oleh karena itu…  Wahai saudaraku, pergunakanlah nikmat waktu yang Allah karuniakan pada kita ini untuk memperkuat kesehatan akidah kita dan memperbanyak bekal amal agar diri kita cukup kuat untuk selamat menempuh perjalanan maha panjang menuju kampung akhirat.

Sungguh sering penyesalan itu datang pada bagian akhir.  Itupun kalau masih cukup waktumu untuk menyesal…


Dirangkum dan disadur dari :  Al Wara’ Wal Bara, 
>>> Continue Reading Here

Selasa, 31 Desember 2013

IMAN dan HIMMAH

Iman adalah Motor Penggerak Utama yang melejitkan himmah. Dialah sebab pertama yang meneguhkan tekat, memantapkan niat, mengasah kebaranian dan menerobos semua tantangan. Iman ini pulalah yang menjadikan segala urusan kecil walau tidak bermaksut meremeh-remehkannya.
Sejarah ummat islam membuktikan itu semua. Siapa yang bisa membayangkan Persia dan Romawi bisa tunduk dibawah telapak kaki kaum muslimin pada masa pemerintahan umar bin khotthab. Padahal kecanggihan teknologi perang kaum muslimin saat itu belum bisa disebut canggih. Siapa yang bisa menduga, kalau Shslahuddin Al-Ayyubi mampu mengalahkan pasukan salib yang luar biasa kuatnya. Padahal kaum muslimin saat itu dalam keadaan lemah, kualitas hidup mereka merosot di seluruh bidang kehidupan. Siapa yang bisa menyangka kalau seorang pemuda bisa mewujutkan sabda Rasulullah,
konstantinopel akan ditaklukkan di tangan seorang laki-laki. Maka sebaik-baik pemimpin adalah pemimpinnya, dan sebaik-baik tentara adalah tentaranya”. (HR. Ahmad)
Padahal ambisi mewujutkan cita-cita ini seakan hampir mustahil, sebab Mu’awiyah Bin Abi Sufyan sudah merintis usaha ini pada masa pemerintahannya. Itu artinya, impian besar ini terwujud setelah tujuh abad kemudian. Tepatnya pada masa pemerintahan pemuda itu. Muhammad Bin Murad atau yang lebih dikenal dengan nama Muhammad Al-Fatih, salah satu khalifah pada masa khilafah Utsmaniyah. Iman ini pulalah yang menjadikan rentang usia seorang muslim menjadi berkah. Bahkan melintasi zamannya. Sejarah ummat islam membuktikan itu semua. Siapa yang mengira kalau sebuah buku kecil, dibaca, dipelajari, disyarah, diberi komentar sampai detik ini. padahal. Buku ini ditulis sejak delapan abad lalu. Inilah berkah kehidupan. Inilah berkah buku kecil, Arba’un An Nawawi. Seberkah usia penulisnya, imam Abu Zakariya An-Nawawi. Meski usia fisiknya hanya 35 tahun, namun usia karyanya memanjang sepanjang zaman.
Iman itu memang ajaib. Tapi justru iman itulah pintu utama jalan menuju kebesaran. Dari sini seorang muslim mendapat akses menuju keagungan. Sebab dengan iman ia menggantungkan harapan kepada pemilik langit; pemilik segala sesuatu. Dengan iman ia menyedot kekuatan dari yang maha kuat; allah azza wa jall. Begitulah seterusnya, pada awalnya keinginan itu mungkin hanya sebatas impian. Sekedar harapan. Tidak lebih dari itu. Apalagi jika sarana penunjang untuk mencapainya tidak ada. Tetapi, ketika impian itu disentuh oleh iman jadilah ia seperti gelombang dahsyat yang menyapu segala penghalang; yang meluluhlantakkan semua tembok perintang. Itulah kerja iman, menjadikan keinginan yang biasa-biasa menjadi himmah ‘aliyah,, menggerakkan ombak tenang menjadi tsunami dahsyat. Dengan cara itulah shahibul himmah meraih segala citanya.
Demikianlah adanya. Sebab pemilik iman itu, kata Syaikhul slam Ibnu Taimiyah, mereka meraih sesuatu dalam waktu singkat berupa ilmu dan amal melimpah yang tidak diperoleh orang selain mereka dalam hitungan abad dan generasi. http://wahdah.or.id/tekad/iman-dan-himmah.html
>>> Continue Reading Here

Kamis, 07 November 2013

Wisuda Kematian



Gaun itu
Ada hikmah belum kini kau kenakan
Atau belum pasti kau kan kenakan
Karena ia adalah hari esok
Perkara ghaib yang telah diatur Allah
Jauh sebelum dunia dan isinya dicipta.

Bisa saja engkau lebih dulu meraih wisuda kematian
Sebulan sehari atau beberapa menit sebelum toga itu berpindah
Tiada yang mampu jamin
Ketidakhadiran malikul maut

Apa yang ditakuti?
Karena semua akan mati
Tapi keresahan pada raut binar kedua orang tersayang.
Betapa pilunya mereka
jika tidak menggantungkan semuanya pada Allah

Hati pun berbisik
Bagaimana jika mereka mendahului semuanya
Sebelum wisuda tiba,
Egoku kan patah
Besarnya kegundahan
di balik bahagia yang dinanti mereka
Allahul musta'an
>>> Continue Reading Here

Wahai jiwa, zuhudlah...




Wahai jiwa jujurlah
Apa setelah itu?
Apa setelah nafsumu terpenuhi
Terhadap harta
Terhadap pasangan
Terhadap kedudukan
Dan semuanya
Bahwa ini hanyalah nikmat sesaat

Wahai jiwa, Zuhudlah di dunia ini
Sederhanalah dalam berjalan
Jangan sekali-kali angkuh
Sederhanalah dalam berpakaian
Jangan sekali-kali menyimpang dari ajaran Nabi
Hanya karena ingin mengikuti trend masa kini dari media

Satu hal
Tidak mengikuti perkembangan zamanlah
Yang tepat dikatakan bagi orang-orang yang tidak jelas
Dalam mengikuti panutan terutama petunjuk

Bukan jumlah sedikit
Menjadi standar tidak mengikuti perkembangan zaman
Tetapi mereka yang punya kejelasan panutan terutama petunjuk
Yaitu kebenaran

Bukan standar Jumlah yang banyak yang harus pula diikuti
Bukan standar Jumlah yang banyak itulah kebenaran
Namun kebenaran ketika berada di atas jalan
yang telah dilalui Rasulullah dan sahabat
Meskipun sendiri

Wahai jiwa,
Jangan terlena dengan sepintas dunia ini
Tinggalkanlah yang tidak bermanfaat bagimu
Dalam berharap perjumpaan dengan Allah

Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan. Al-Kahfi,18:46

Wahai jiwa,
Jangan iri dengan kenikmatan dunia orang-orang sekitarmu
Sungguh Allah angkat derajatmu dengan ilmu untuk berfikir
Sebagai pembeda dengan awam
Yang mengejar dunia dengan bersusah payah
Dan terkorbankanlah akhiratnya
Sungguh rugi dan celaka yang bersusah payah di dunia dan akhirat
Adapun engkau susah payah di dunia
Itu masih lebih baik ketika suka dan senang di akhirat, insya Allah

Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas. Al-Kahfi,18:28

Karena,,,
Engkau berharga dengan zuhudmu
Engkau terbaik dengan qana'ahmu
Engkau berbahagia dengan imanmu di dunia hingga akhirat

Meski secara lahiriah engkau tampil miskin di hadapan manusia
Tapi secara batin engkau tampil kaya karena engkau telah dipilih Allah
Menjiwai nikmat ilmu, islam, iman, ihsan.

Barangsiapa yang mengejar dunia maka dunia akan semaakin menjauh
Barangsiapa yang mengejar akhirat, maka dunia akan mengikut
Zuhudlah... Dengan dunia.

>>> Continue Reading Here

Kamis, 08 Agustus 2013

Sweet Moment






Suara takbir menghias bumi

Tanda pertemuan akan ada perpisahan
Sedih bersama orang-orang yang sedih

Kala mencoba bayangkan sederet yang kemarin
betapa indah di hati saat itu
sesejuk taman yang rindang
berdiri yang lama* bersama-sama
Letih! Ya... tentu semua merasakan
namun nikmat di hati
oleh bait-bait AlQuran
yang mendendangkan jiwa.

Kumerindu semuanya
yang kini akan tinggal kenangan
walau kuharap semuanya berharga bagiku kelak
serta moment itu terulang kembali untukku dan mereka esok

Yah kedekatan hati (ta'liful qulub)
tlah menyatukan kita bersama 
dalam lantunan doa
dalam larut tetes-tetes air mata
Membayangkan berhadapan langsung
dengan Allah Azza Wa Jalla...
Membayangkan bekal yang sedikit
tuk perjalanan yang saaangat panjang
yaitu Amal...
Membayangkan  kilas-kilas dosa
yang lahir dan bathin...

Betapa ingin rasanya suasana sepuluh hari itu
berlanjut setiap masa
pada detik-detik di sisa umur hidup
yang sebentar lagi kan dijemput oleh Malikul Maut

Oh ya Rabbku ya Ghafur
ampunilah kami yang meremehkan dosa
dan lalai dengan hari Akhir...
Kuatkan iman kami menempuh hari demi hari yang panjang setelah ini
Karena sungguh hati kami ada dalam genggamanMu

Ya Muqallibal Quluub Tsabbit Qalbii'alaa Diinik

رَبَّنَا لاَ تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنتَ الْوَهَّابُ

(Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia). [8: آل عمران]


اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً

“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizki yang baik, dan amalan yang diterima.”

~~~~~~~Taqabbalallahu minna wa minkum~~~~~~~
  (semoga Allah Ta'ala menerima amal ibadah kita)




_______________________________________________
*Sebaik-baik shalat adalah yang lama berdirinya (HR.Muslim)
>>> Continue Reading Here

Syahid Copyright © 2009
Scrapbook Mania theme designed by Simply WP and Free Bingo
Converted by Blogger Template Template